Perjamuan Kudus ‘cimpa Matah Dan Lau
Roti memang makanan pokok Yahudi yang dibuat dari berbutir-butir gandum. Dan anggur juga dari sekian banyak buah an ggur. Ini dapat dianalogikan sebagai satu kesatuan dari sekian banyak. Tapi kalau dianalisa bahwa roti dan anggur itu secara sacramen adalah tubuh dan darah, saya kira sejak zaman Yesus sendiri pun keduanya hanya sebagai tanda.
Pada saat perjamuan malam sebelum Yesus ditangkap, Ia mengatakan: “Inilah tubuhku, inilah darahku." Bagaimana mungkin Ia mengatakan itu padahal Ia juga mengambil bagian di dalamnya? Apakah ia memakan dagingNya sendiri dan meminum darahNya sendiri? Tentu tidak.
Tapi, dalam perjamuan itu terdapat sebuah makna Unio Mystica (kesatuan secara mistik/ illahiah), sehingga dengan kata lain, Perjamuan Kudus bukanlah persatuan secara lahiriah saja, tapi mistik. Ini juga yang membuat makna Perjamuan Kudus tidak hanya sebagai peringet-ingeten kerna kesengsaran Yesus, tapi juga pengokohan persekutuan. (Saya menganggap inilah dasarnya sehingga Perjamuan Kudus dalam bahasa Indonesia diterjemahkan Lakon Persadan Sibadia - yang tidak menjelaskan tentang makan minum dalam istilah itu). Penampilan Kelompok Teater SIRULO pimpinan Ita Apulina Tarigan di Hotel Dharma Deli. Naskah dan sutradara: Juara R. Ginting.[/caption]