Pernak Pernik Kemerdekaan (1):
Alasannya cukup sederhana. Ingin balas dendam kepada Belanda dan beliau sama sekali tidak tahu apa itu arti merdeka (maklum, masa itu belum ada radio. Jadi belum dengar berita Proklamasi).
Mengapa almarhum sebegitu dendamnya? Ceritanya begini ….
Setelah Jepang pulang ke negaranya, banyak tentara Belanda berseliweran di Kabanjahe (dikenal melalui benderanya yang merah putih biru). Bila malam hari tiba, sering terdengar suara letusan senjata.dan besoknya Belanda akan melakukan sweeping ke kampong-kampung terdekat, termasuk Bunuraya.
Mereka menangkapi para pria dewasa dan menganiayanya untuk mengorek keterangan keberadaan para ekstrimis (istilah Belanda pada waktu itu). Almarhum ayah saya pada waktu itu berumur 17 tahun dan kebetulan badannya tinggi besar. Dia dianggap pria dewasa dan ikut diciduk (2 kali). Dianiaya lalu dibebaskan.
Oleh karena khawatir dengan apa yang dialami anak bungsunya, Nini Iting saya menyuruh almarhum menyingkir ke Ajinembah. Katanya: “To dahi Nini Karondu ku Ajinembah. Melala lembuna. Ermakan saja kam rassa .”
Singkat cerita, tinggallah ayah bersama empung beru Karo di Ajinembah dan menggembalakan sapi-sapi Nini Karona. 2 pengembala sapi dan sekawanan sapi di Ajinembah. Foto: Mecu Ginting[/caption]