Pernak Pernik Kemerdekaan (2): Pahlawan Tak Dikenal Dan Tak
Tangisannya terdengar sangat pilu sekali sambil berkata: “Engko ngei akapmu ntabeh, nak, impal, kalimbubu kami .” (engkau yang mengalami kenikmatannya)
Ayah kaget dan bertanya: “Kai kin ei, mpal ?” (Apa yang terjadi, besan?)
Lalu bengkila bercerita. Sore tadi, beliau mendapat pemberitahuan bahwasanya gaji veteran yang diterimanya selama ini sudah dihentikan karena perjuangannya tidak diakui alias tidak pernah ada. Mirisnya lagi, ada oknum yang menakut-nakuti uang gaji yang selama ini telah diterima harus dikembalikan kalau tidak mau masuk penjara karena telah melakukan penipuan.
“Uga nari nge kubahan man bangku, nak? hu hu hu… ” (Mau jadi apa lagi aku kalau sudah begini, kawan?) kata paman lagi sambil menangis terisak.
Mendengar itu, ayah hanya termenung tanpa kata. Kulihat matanya berkaca-kaca. Setelah hening beberapa saat, ayah berkata dengan suara agak lirih: “Dulupun sering kukatakan, teruslah kita bekerja di pemeritnahan. Tapi kamu tidak peduli. Kami lebih tertarik bekerja di ladangmu. Beginilah jadinya.”
“Bagaimana dengan uang yang harus kukembalikan itu?” kata paman lagi dengan agak emosi.
Ayah berkata: “Biarkan! Tidak perlu dikembalikan. Munggil ia ku joh kerina . Kalau karena itu kamu dipenjara, aku akan mengikutimu dan kita bersama di penjara.”
Barulah paman agak tenang. Singkat cerita, setelah membahas soal gaji veteran, mereka pun bercerita nostalgia masa perjuangan dengan kami semua anak-anak ayah yang mendengarkan.
Di tengah-tengah cerita, paman bertanya ke ayah: “Masih ingatkah engkau teman kita si Upah? Aku tidak bisa melupakannya.”
Saya pun merasa tergelitik tak tahan untuk tidak bertanya: “Bagaimana ceritanya, bengkila ? Ceritakanlah kepada kami.”
Lalu paman itu bercerita dengan sekali-sekali diselingi oleh ayah:
Suatu hari, mereka bertiga (ayah, paman, dan Upah) diperintahkan oleh pimpinan untuk suatu misi membawa informasi rahasia agar disampaikan ke pimpinan lebih tinggi. Karena bukan misi tempur, mereka tidak dibekali senjata. Usai pawai peringatan Kemerdekaan RI yang ke 70 di Kabanjahe. Foto: NGGUNTUR PURBA.[/caption] Di tengah perjalanan, mereka terpergok oleh patroli Belanda dan segera menyingkir. Tapi patroli Belanda yang melihat mereka segera mengejar. Untuk menyelamatkan diri, mereka bersembunyi di pinggir sungai yang tebingnya mempunyai ceruk. Sekian lama bersembunyi, si Belanda tidak pergi juga dan tetap mengepung sungai tersebut. Melihat situasi yang kurang menguntungkan, Upah selaku yang dituakan di kelompok mereka mengambil keputusan untuk mengorbankan diri agar rekannya dan informasi yang dibawa bisa selamat sampai ke tujuan.
Si Belanda, setelah menembak almarhum Upah, mereka pun pergi sambil tertawa puas.