Pers Dipersilahkan Mengawasi Pemulihan Bencana — Sorasirulo
Sorasirulo

Pers Dipersilahkan Mengawasi Pemulihan Bencana

Erosi akibat banjir lahar dingin di Gurukinayan. Foto: ASTREA PURBA.[/caption] B. KURNIA PARGAULAN P. KABANJAHE. Selain meninjau berbagai daerah yang rusak akibat banjir lahar dingin dan erupsi Sinabung, Mely dan rombongan juga meninjau kondisi terkini dan terakhir pemukiman relokasi Siosar.

Anggaran yang baru dipergunakan berkisar Rp 30 milyar ditangani pihak BNPB, dan TNI AD bersama masyarakat masih berlangsung sampai saat ini untuk rencana pembangunan perumahan, sarana-sarana umum dan sosial, infrastruktur, sekolah dan sarana-sarana lainnya.

Masyarakat dan pers bebas mengawasi serta mempertanyakan berbagai hal yang dianggap tidak sesuai. Saran dan kritik bisa disampaikan kepada pihak BNPB atau pun TNI mau pun kepada BPBD Karo secara terbuka dan bertanggungjawab.

“Prihatinnya kita, menjelang Pilkada ini, beberapa oknum dan kelompok memanfaatkan situasi penanganan erupsi dan banjir lahar dingin untuk mempopulerkan diri dengan menjatuhkan kredibilitas Pemkab Karo yang saat ini dipimpin oleh Terkelin Brahmana. Seakan Pemkab tak serius menanganinya. Padahal, penanganan pemulihan erupsi dan banjir lahar dingin tidak mungkin dilakukan secara instan. Harus melewati kajian ilmiah dan pemikiran yang matang bersama Pemprovsu dan Pemerintah Pusat,” jelas Subur Tambun.

Subur mengajak para warga terdampak tetap sabar mengahadapi fenomena alam dengan kuat dan semangat dalam doa dan bekerja secara seimbang. Kisah Beidar Nandena ditampilkan oleh Juara R. Ginting bersama Kristi Tarigan, Kinok Surbakti dan Dr. Clara Brakel bersama kelompok mahasiswa Karo di Belanda (Utrecht, September 2014). Penampilan ini disaksikan oleh Dubes RI untuk Belanda, Retno Lestari Marsudi, yang tak lama setelah itu diangkat oleh Jokowi menjadi Menteri Luar Negeri.[/caption]

Hanya saja, hingga saat ini, belum ada indikasi adanya perhatian pemerintah maupun BNPB untuk memperhitungkan satwa-satwa terancam punah seperti halnya si kambing hutan Sumatra yang dalam bahasa Karo disebut Beidar atau Bedar. Begitu juga dengan trenggiling yang di dalam bahasa Karo disebut sokkir atau uskir . //