Revolusi Kecil — Sorasirulo
Sorasirulo

Revolusi Kecil

Berita terkini ·
Bastanta P. Sembiring (Senembah) Rombongan jemaat gereja-gereja seKalimantan yang mengunjungi GBKP menyempatkan diri menjenguk Museum GBKP di Sibolangit. Museum GBKP kemudian menyuguhkan hiburan tarian tradisional Karo yang dibawakan oleh Sanggar Seni Sirulo.[/caption] Saya bangga melihat Suku Karo yang menyuarakan KBB (Karo Bukan Batak) untuk menegaskan identitasnya. Itu hal yang wajar dan memang penting walau banyak yang mencemooh dan menuduh negatif. Dari siapa dia, cara, serta jalan cerita yang dia bangun, jelas yang menuduh itu jauh lebih busuk.

Satu hal lagi yang paling buat saya bangga dan senang dengan teman-teman pro-KBB, adalah dari sejarah yang saya pelajari sejak kolonial masuk ke Taneh Karo. Konflik terbesar di masyarakat Karo adalah yang berkaitan dengan agama. Ini terus berlanjut hingga memasuki Abad 21.

Sebagaimana Daniel Perret juga beranggapan demikian, sehingga kemudian menciptakan kelompok sosial Batak, Aceh dan Melayu yang kesemuanya itu pada dasarnya bertumpu pada kategori agama (kepercayaan). Padahal, tidak ada sangkut paut geneologi.

Tetapi KBB telah meruntuhkan itu. Lang gia ningen, enda sada revolusi bagi budaya dan masyarakat Karo. Penyambutan tamu dari Kalimantan di Museum GBKP oleh Sanggar Seni Sirulo.[/caption]

Saat orang-orang di sebelah yang katanya ahli kitab, alim ulama, cinta perdamaian, taat Firman tapi bisa naik pitam mempertahankan dogmatika kelompoknya hingga saling hina, saling hujat. KBB malah menunjukkan kemesraannya.

Konflik besar itu sudah mereda. Tembok raksasa yang menghantui dunia, siapa yang sangka menjadi kekuatan bersama bagi Suku Karo.

Melihat ini saya jadi rindu dengan lagunya Iwan Fals, "kemesraan ini, janganlah cepat berlalu..."

Mejuah-juah. // //