Rindu Landek — Sorasirulo
Sorasirulo

Rindu Landek

Budaya ·
Oleh: Bastanta Permana Meliala (Medan)

Landek (cakap Karo) berarti ‘tari’ dalam bahasa Indonesia (Melayu). ‘Landek Karo’ berarti tarian Karo.

Sejujurnya, saya tidak begitu paham tentang ‘landek Karo’, apalagi saya lahir (di Medan) dan tumbuh besar (di Patumbak), di wilayah Karo Jahé. Di Patumbak kami tidak mengenal dan memang tidak diajarkan ‘landek’ dengan pakem-pakem (aturan) tertentu sebagaimana mestinya. Namun, bukan berarti kami tidak bisa landek Karo, walau lebih mengarah ke landek/tari kreasi.

Saya ingat betul saat masih duduk di Sekolah Dasar (SD) di Patumbak, setiap kali ada perayaan, baik yang diadakan oleh pemerintah, gereja, oraganisasi masyarakat, sekolah, maupun muda-mudi, selalu ada ditampilkan landek Karo. Beberapa tari kreasi Karo yang cukup populer saat itu, diantaranya Terang Bulan, Roti Manis, dan Piso Surit.

Satu lainnya yang tidak kalah populer belakangan ini adalah tari kreasi Karo Mbiring Manggis. Tarian ini populer bersamaan dengan lagunya yang saat itu juga dipakai sebagai musik pengiring senam pagi di beberapa sekolah dan kantor. Di kemudian hari, lagu ini ini digeser oleh Poco-poco. Semangat kami semakin memuncak[/one_fourth]

Saat menjelang hari besar seperti Hari Kemerdekaan dan Natal di beberapa kelas di sekolah dapat kita dengar lagu-lagu Karo. Ya, siswa-siswi sedang latihan landek Karo, bisa sampai berbulan-bulan. Saya juga beberapa kali ikut landek membawakan tarian kreasi Terang Bulan, Roti Manis, dan Piso Surit. Semangat kami semakin memuncak saat mendapat saweran dari penonton.

Belakangan sudah jarang kita melihat landek Karo ditampilkan di acara-acara formal maupun non formal sehingga anak-anak Karo kurang mengenal Landek Karo. Mereka bahkan lebih mengenal tortor , goyang itik, dlsb. Anehnya lagi, mereka menyebut Landek Karo dengan sebutan tortor Karo dan menyebut uis/ osé Karo (uis gara ) yang sering dipakai saat melakukan landek Karo dengan sebutan ulos Karo.

Sebenarnya mereka (anak-anak sekarang) tidak bisa sepenuhnya kita salahkan. Kitalah yang mungkin kurang menginformasikan kepada anak-anak ataupun adik-adik kita tentang bagaimana kekaroan itu yang sebenarnya. Saya ingat dahulu, setiap ada acara, guru-guru, muda-mudi, ataupun orangtua yang orang Karo langsung berperan dan menawarkan dirinya untuk melatih anak-anak mengisi acara. Sudah pasti salah satu penampilan yang akan ditunjukkan adalah landek Karo.

Sekarang? Jadi, saya pinjam pertanyaanya M. U. Ginting, katanya, “Ija kita kurangna é ?” Ras-ras kita ngukurisa. Mejuah-juah. //