Sanggar Seni Sirulo Dan Hari Musik
Sudah 2 tahun saya tidak lagi bergelut dengan dunia seni Karo. Hari ini tepat Hari Musik Nasional, membuat saya terkenang kembali pada sebuah wadah pelestarian musik lokal, Sanggar Seni Sirulo. Saya ingat betul bagaimana sanggar ini dibentuk pada tahun 2009, yang hanya terdiri dari beberapa mahasiswa Karo dari USU dengan nama Sanggar Najati. Ketteng-ketteng sebagai alat musik wajibnya. Sanggar Seni Sirulo saat latihan[/caption]
Kelompok ke dua adalah kelompok kolaboratif. Kelompok ini seperti menyajikan “masa lampau” pada masa “sekarang” ataupun menggabungkan musik tradisional dengan musik modern. Kelompok ini juga sepertinya memiliki kerinduan untuk mengembangkan musik tradisi agar dapat mendapat tempat di masyarakat di tengah-tengah kuatnya pengaruh dan pasar musik modern. Berdasarkan pengalaman saya, ternyata banyak yang merindukan musik tradisi (kolaboratif) di samping banyak juga yang meragukan awalnya. Mengajar anak-anak pengungsi Sinabung bermain ketteng-ketteng (Kabanjahe)[/caption]
Setahun Sanggar Seni Najati berjalan, ada kesepakatan untuk mengubah namanya menjadi Sanggar Seni Sirulo. Hal ini berkaitan dengan dikukuhkannya Sirulo Community Mediation (SCM) sebagai sebuah LSM resmi dengan Sanggar Seni Sirulo sebagai salah satu unit kegiatan (usahanya). Ketua Sanggar Seni Sirulo (Ita Apulina Tarigan) (paling kanan yang juga Pemimpin Redaksi SoraSirulo.com terkadang ikut juga bermain musik dalam pertunjukan selain bekerja sebagai assisten sutradara pertunjukan.[/caption]
Mungkin tidak hanya Sirulo saat itu, juga ada beberapa sanggar lain yang bergema seperti sanggar Ersinalsal, sanggar Karo Indonesia dan lainnya. Di tingkat internasional, kita dapat mendengar gaung seni musik Karo oleh sanggar Tartar Bintang di Eropah, khususnya Belanda. Sang sutradara Juara R. Ginting yang kadang menyutradarai pertunjukan Sanggar Seni Sora Sirulo secara langsung, dan terkadang menyutradarainya lewat webcam dari Belanda dengan bantuan assisten sutradara Ita Apulina Tarigan.[/caption]