Sebuah Kota Di Jambi Didirikan Orang
Simpang Rambutan, awalnya merupakan kawasan pertanian/perkebunan di Desa Suban (Kecamatan Batang Asam, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi) kini berkembang menjadi kawasan permukiman padat penduduk dan perdagangan. Populasinya didominasi oleh etnis Karo, Batak, dan Jawa.
Sebagian besar mereka bermatapencarian petani atau berdagang, pengusaha, buruh, dan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Suku asli daerah ini adalah Orang Rimbo atau juga dikenal dengan Suku Anak Dalam dan Anak Luar. Anak Dalam sebutan bagi mereka yang masih hidup di hutan, nomaden (berpindah-pindah), dan interaksi dengan dunia luar masih terbatas. Sedangkan Anak Luar sebutan bagi mereka yang sudah menyerap modernisasi dan tinggal menetap.
Oleh orang-orang Melayu mereka dijuluki Suku Kubu. Kata ‘kubu’ dalam bahasa Melayu berarti ‘benteng pertahanan’, namun makna lain dari kata ‘kubu’ adalah: ‘primitif, kafir, liar, brutal, pemakan babi, dsb’. Demikian oleh orang-orang Melayu dilabelkan kepada suku pedalaman di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan ini yang lebih berkonotasi negatif yang kemudian dikukuhkan berdasarkan catatan kolonial dan penjelajah asing, seperti halnya lebelisasi kata ‘batak’ pada suku-suku pedalaman Sumatera bagian Utara.
Keberadaan komunitas Orang Rimbo kemudian tergantikan oleh para pendatang Melayu yang menamai mereka dengan istilah Orang Kampungi untuk melegitimasi keberadaan mereka sebagai penguasa dan penghuni/pemilik asli kampung (bandingkan dengan yang terjadi di Sumatera Timur setelah Gocah Pahlawan menjadi Sultan Deli). Lambat laun keberadaan masyarakat Kampung ini juga pun semakin tersingkirkan oleh para pendatang Karo, Batak, Sunda, Banjar, dan Jawa. Keberadaan masyarakat Kampung kini hanya ditemui beberapa keluarga yang tersisa, yang bermukin di pinggiran Sungai Lumahen. Datuk Barus Tuo[/two_third]
Eksistensi masyarakat asal Sumatera Utara khususnya suku Karo di Simpang Rambutan tidak terlepas dari jasa Layari Karo-karo Barus, yang lebih dikenal dengan Ahmad Barus (Datuk Barus Tuo).
Layari Barus adalah perantau Karo asal Urung Senembah – Patumbak (Deliserdang). Nama Ahmad Barus diambil dari nama Ahmad Barus II yang lebih dikenal dengan sebutan ‘Paduko Datok Berhalo’ yang merupakan leluhur raja-raja Melayu Jambi. Sedangkan julukan ‘Datuk Barus Tua’ diberikan oleh masyarakat setempat kepada beliau yang tidak hanya dituakan oleh komunitas masyarakat Karo, tetapi juga oleh masyarakat Kampung/ Melayu serta komunitas lainnya.
Layari Barus diyakini sebagai simanteki (pendiri) atau pelopor pendirian Simpang Rambutan. Kejadian ini diperkirakan terjadi sekitar tahun 1970-an hingga awal 1980-an. Ini dikukuhkan melalui acara ergendang pada saat perayaan ulang tahun STM Merga Silima tahun 2010. Acara ini dihadiri Bupati Tanjung Jabung Barat yang saat itu drs. H. Safrial MS.
Saat penulis pertama sekali berkunjung ke Simpang Rambutan di bulan Juni 1997, kondisi Simpang Rambutan masih dikelilingi hutan rimba dan tanaman industry. Ditemukan hanya beberapa rumah yang didiami orang Kampung (Melayu), Karo, Batak, dan Jawa. Di perempatan Smpang Rambutan dapat kita temui toko sembako milik keturunan Tionghoa. //
Saat berjalan, tidak jarang kita bertemu dengan simpanse (kera besar berbulu putih di dadanya), babi hutan, ayam rimba, dan binatang hutan lainnya. Beberapa kilang pengolahan kayu glondongan (saw mill) masih beroperasi. Terakhir di jalan ke Kamp A beroperasi hingga tahun 2012. Saat itu, baru saja berakhir masa jabatan Selamat Barus, bupati ke-7 Kabupaten Tanjung Jabung (Sebelum mekar menjadi Tanjung Jabung Barat dan Timur, Oktober 1999) Dia menjabat antara tahun 1986 – 1996. Dia adalah seorang putra Karo asal Karo Jahe (Deliserdang). Siswa/i SDN 178 Sp. Rambutan usai membawakan tarian "Roti Manis" di sekolah saat perayaan HUT Kemerdekaan.[/caption]