Selayang Pandang 'gereja Injili Karo Indonesia'
Gereja Injili Karo Indonesia atau disingkat GIKI merupakan lembaga/ wadah kerohanian umat Kristen yang resmi berdiri pada 27 Juni 1992 di Kabanjahe (Kabupaten Karo, Sumatera Utara). Buah dari kerinduan dan keterbebanan umat Kristen dari Suku Karo yang rindu akan Pekabaran Injil (PI).
Missinya ialah, agar semakin banyak orang-orang Karo dan suku bangsa lainnya dimenangkan di dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Kronologi berdirinya GIKI
GIKI tumbuh dari benih-benih semangat penginjilan diantara umat Kristen dari Suku Karo, yang terbeban untuk kembali memberitakan Injil, khususnya bagi suku dan daerahnya. Namun, keberadaan mereka kemudian dianggap mengusik dan menjadi masalah bagi tempat mereka bernaung sebelumnya, sehingga semangat untuk melakukan reformasi dalam tubuh gereja yang selama ini lebih mensibukkan diri dalam aspek birokrasi gereja ketimbang kegiatan penginjilan cepat mendapat pertentangan, sehingga tujuan reformasi tidak tercapai.
Beberapa aktifis penggiat mendapat skorsing dan berujung pada pemberhentian, sehingga merekapun memilih keluar, memutuskan untuk mendirikan satu sinode baru sebagai wadah pelayanan. Namun, mendirikan sebuah sinode bukanlah perkara yang mudah. Oleh karena itu, sebelum Sinode itu berdiri, maka cikal bakal sinode ini menggabungkan diri di bawah naungan sinode Gereja Kristen Kudus Indonesia (GKKI) dengan status khusus ditandai dengan penamaannya Gereja Kristen Kudus Indonesia – Jemaat Karo Injili atau dikenal dengan GKKI – Jemaat Karo Injili (Kabanjahe dan Bandung). //
April 1992 diadakan MoU antara pimpinan Gereja Kristen Kudus Indonesia (GKKI) dengan GKKI – Jemaat Karo Injili(cikal bakal GIKI) tentang status sementara Jemaat Karo Injili di bawah naungan GKKI Pusat. Pada Bulan Mei 1992, utusan GKKI - Karo Injili, Pdt. B.A. Perangin-angin bertemu dengan drs. Kerani Ketaren (Pendiri GKKI) di Bandung, berkonsultasi tentang pentahbisan jemaat pertama Jemaat Karo Injili di Kabanjahe.
Karena memang MoU antara GKKI dengan Jemaat Karo Injili dilaksanakan dengan penuh kesadaran, maka dalam proses ini tidak ditemukan permasalahan.
Minggu, 27 Juni 1992, GKKI Jemaat Karo Injili pertama di Kabanjahe resmi berdiri dengan Pdt. B. A. Perangin-angin menjadi Gembala/ Pendeta Jemaatnya yang juga merupakan satu-satunya pendeta saat itu di Jemaat Karo Injili dan dilanjutkan dengan pentahbisan GKKI Jemaat Karo Injili di Bandung (sekarang GIKI Bandung) pada Minggu 27 September 1992.
Tanggal 27 Juni 1992 kemudian ditetapkan secara Sinodal GIKI sebagai hari lahirnya Gereja Injili Karo Indonesia(GIKI). Kemandirian
Berkat Kasih Karunia Tuhan Yesus, ketekunan hati pengerja, jemaat, aktifis dan simpatisan, serta dukungan dari banyak pihak dan tentunya kebesaran hati dari drs. Kerani Ketaren sebagai pendiri GKKI, 20 Oktober 1992, GIKI memperoleh izin pertamanya yang dikeluarkan oleh Kanwil Depag Provinsi Jawa Barat dengan nomor: Wi/BP.020/Ket/118/1992. Maka, secara hukum GIKI diakui keberadaannya sebagai sebuah Sinode.
Tantangan dan rintangan dalam mengemban pelayanan yang bercirikan kinikaron adalah hal yang lumrah, mengingat perkembangan budaya gereja dunia yang sebagaian besar dipengaruhi oleh budaya gereja Eropa, nota bene gereja-gereja di Indonesia juga merupakan hasil zending dari badan zending Eropah. Namun, bagaimana dengan GIKI yang lahir dari umat Kristen Karo? Baptisan anak di GIKI Cimahi[/caption]