Seni Karo Tumbuh Di Anak-anak
Budaya ·
Para pemusik dari Klasis Riau-Sumbar di PIARA 2015, Retreat Centre GBKP, Sukamakmur (Sibolangit).[/caption] RICKY MAINAKI PURBA. PEKANBARU. “Kerja Tahun i Taneh Karo, salih laguna ku kacang koro, gia kami mbelin i taneh ranto, upssssssssss....!!!! ula salah, kami tetap nge kalak Karo ,” sebuah pantun yang dilantunkan oleh Adriel Perangin-angin. Adriel adalah salah seorang peserta PIARA 2015 dari Klasis Riau-Sumbar saat acara Malam Budaya di panggug by appsave" href="#34725813"> Go Green, Retreat Centre GBKP, Suka Makamur (Sibolangit). Pantunnya mengundang tepuk tangan semarak peserta dari berbagai klasis lainnya.
Dalam acara malam itu, Klasis Riau-Sumbar menampilkan gabungan tarian Melayu dan Karo. Tarian Melayu dihantarkan musik dengan lagu Lancang Kuning, dan tarian tarian Karo Mbuah Page. Penampilan ini ditutup dengan lagu dari PEE No 45 Siberitaken Berita Simeriah. Penari terdiri dari 4 penari Melayu dan 6 penari Karo.
Menariknya dari penampilan kali ini, selain dari tarian serta pakaian adat Melayu dan Karo yang dikenakan oleh para penari, adalah di musiknya. Peserta PIARA 2015 dari Klasis Riau-Sumbar menggunakan alat-alat musik ini: 4 marwas, keyboard (acorrdeon), kulcapi, keteng-keteng, gendang si nganaki dan penganak serta vokalis Nasya Br Kaban.