Setahun Di Pedalaman
Mulailah kulihat kiri dan kanan, layaknya seorang anak yang ikut ayahnya ke kota naik delman istimewa, tuk tik tak tik tuk....
"Ah, nen min dagena dah. Usur kam kari jumpa si bagah ," kata Kabid Marturia kepadaku. Kulihat, ternyata ada dua perempuan yang sedang 'sleeping beauty' di rerumputan pinggir jalan. 'Inilah berarti yang orang-orang bilang Suku Anak Dalam', pikirku. Singkat cerita, kami tiba di portal PT WKS. Kalau hendak ke Bukit Rinting kita harus melewatinya. Kalau sepeda motor bisa langsung lewat saja. Tapi kalau mobil, harus atas seizin security di pos jaga. Di portal, sudah menunggu bibi beru Sembiring dan beru Ginting, kami berbarengan masuk ke dalam. Di atas mobil kami berkenalan. Belum begitu kenal dekat, mereka sudah katakan: "Iihh …. Tahanlah kam kari tading jenda, pikariss? Adi idah ayondu ena kota nari kam, tama me ku kerangen-kerangen enda. Jenda kari lanai bo kam mbentar, mbiring nge kari ." Bibi beru Ginting itu berkata sambil tertawa terbahak-bahak. Aku senyum saja. “Idah me kari ,” bisikku dlaam hati. Tiba di gereja. “Gereja? Uga bage gereja? ” dalam hatiku.
Sungai itulah MCKnya (MCK= Mandi Cuci Kakus).