Siapa Pejuang Karo Yang Layak Pahlawan Nasional?
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya, demikian kalimat bijak yang selalu kita dengar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Agaknya Onan Abdi Sitepu dan saudara Dananta Barus menaruh perhatian besar atas para pejuang bangsa, terlebih-lebih yang berasal dari Karo. Makam Pahlawan Kabanjahe[/caption] Saya yakin, mereka mewakili rakyat Karo lainnya, yang rindu akan adanya pengakuan Pemerintah RI untuk menetapkan tokoh lain setelah Garamata menjadi Pahlawan Nasional. Padahal rakyat Karo sangat terkenal gigih melawan Belanda dan mempertahankan Kemerdekaan RI, terbukti di Indonesia hanya 2 (dua) Makam Pahlawan yaitu di Surabaya dan di Kabanjahe. Selebihnya merupakan Taman Pahlawan. Perang Sunggal
Kolonial Belanda mulai memperluas daerah jajahannya setelah Jawa ke Pulau Sumatera. Di Sumatera Utara, Belanda berkeinginan menguasai perekonomian lewat penguasaan tanah dengan perkebunan. Perkebunan tembakau Deli yang sangat baik kualitasnya dan sangat diminati dalam perdagangannya ke Eropah (Kota Bremen Jerman) adalah bukti bercokolnya Kolonial Belanda di Tanah Deli yang berpenduduk asli orang Karo dan Melayu (disebut Melayu karena telah masuk Islam). Datuk Sunggal yang bermerga Surbakti (Melayu Karo) tidak dapat menerima keinginan kolonial Belanda yang telah membawa seorang pengusaha perkebunan bernama Cremer (biasa dipanggil Tuan Kebun). Karena daerah yang akan dijadikan perkebunan ini adalah tanah rakyat yang terdiri dari orang-orang Karo dan Melayu dengan hak-hak istimewa berupa konsensi atau erfach antara 75 – 100 tahun, ternyata mendapat perlawanan penduduk secara fisik terutama di daerah Sunggal Sebernaman. Perang rakyat Karo/ Melayu melawan kolonial Belanda di wilayah ini cukup panjang yaitu selama 23 tahun, dimulai sejak 1872 hingga 1895. Oleh Belanda perlawanan rakyat Karo/ Melayu ini disebut “Batak Oorlog (Perang Batak)”.
(Klik Bagian 2 ) // _____________ * Tulisan ini diambil dari berbagai sumber. Disajikan untuk merayakan HUT RI yang ke-66 Tahun. * Penulis adalah Pengajar di Universitas Quality Kabanjahe dan Kasie Pembinaan dan Pengawasan Kepemudaan di Dinas Kepemudaan dan Olah Raga Pemkab Karo.