Suburnya Kbb Di Media — Sorasirulo
Sorasirulo

Suburnya Kbb Di Media

Budaya Pendidikan ·
Oleh: Brandy Karo Sekali (Medan) Ilustrasi: Darul Kamal Lingga Gayo[/caption]

Pada bulan Mei tahun 2003 (11 tahun silam), dimana saat itu bertepatan dengan HUT koran SIB, maka di koran yang identik dengan masyarakat Batak tersebut pernah dimuat sebuah judul yang sangat bombastis, yakni "Dimana Ada Masyarakat Karo di Situ Ada SIB". Judul berita tersebut tentu saja ada benang merahnya dengan keberadaan masyarakat Karo yang selama beberapa dekade waktu itu selalu disuguhi dengan pemberitaan pro Batak dari Harian SIB.

Mengingat begitu lamanya sebuah koran yang memonopoli sumber pemberitaan di tengah-tengah masyarakat, maka hal ini juga tentu berpengaruh terhadap pola pikir orang Karo pada saat itu, dimana mereka akan tetap mengagap diri sebagai bagian dari Batak, sebab demikianlah informasi yang selalu disiarkan oleh media massa dan mereka baca.

Keadaan arus informasi pada saat itu tentu sangat berbeda dengan sekarang, dimana saat sekarang sumber informasi bukan hanya dimonopoli oleh surat kabar, tetapi arus informasi kian kaya dengan kehadiran internet, khususnya media sosial yang semakin populer belakangan ini.

Ketika kita membicarakan KBB (Karo Bukan Batak) saat sekarang, maka akan sering pula muncul pertanyaan dari kalangan yang kontra dengan gerakan ini. Mengapa dari dulu tidak ada orang Karo yang protes ketika mereka disebut sebagai bagian Batak? Orang Karo yang melakukan protes ketika Karo disebut sebagai Batak tentu saja sangat banyak, tetapi suara mereka tentu saja tidak akan ada yang mendengar, sebab arus informasi masih dikuasi oleh surat kabar yang orientasi komunikasinya masih searah ketika itu. telah 'terdoktrin' melalui media surat kabar[/two_third]

Dengan keberadaan arus informasi yang memungkinkan dilakukan dua arah melalui media sosial saat sekarang, maka semakin kelihatanlah protes-protes Karo bukan Batak itu semakin mengemuka. Selain itu, orang-orang yang sebelumnya telah 'terdoktrin' melalui media surat kabar, bahwa Karo adalah bagian Batak -- juga semakin banyak belajar dari beragam informasi yang secara mudah bisa mereka temukan di media sosial. Dengan kenyataan ini, semakin hari, maka semakin sedikit pulalah masyarakat Karo yang menganggap diri mereka sebagai bagian Batak.

Spirit gerakan Karo bukan Batak (KBB) memang melalui media sosial yang memungkinkan komunikasi dua arah dan bukan melalui media searah, seperti halnya surat kabar, TV, dan juga radio. Jadi sangat wajar sekali bila keberadaan KBB itu sendiri sangat tumbuh subur di berbagai media sosial, seperti halnya Facebook, Twitter, Blog dan lain sebagainya. // //