Tradisi Membobol Kolam
Biasanya, sipemilik kolam membobol kolamnya di malam hari agar, saat matahari terbit di pagi hari, kolamnya sudah mengering.
Sanak saudara yang diundang selanjutnya turun ke kolam untuk ndurung (menangguk) ikan. Biasanya ikan yang diternakkan adalah ikan mas. Selain ikan mas. isi kolam biasanya adalah ikan gabus, nila, mujahir, lele, belut, dlsb bebas untuk diambil.
Selesai ndurung dilanjutkan acara makan dan bakar ikan. Biasanya kegiatan ini berlanjut hingga sore, dan, tidak jarang juga acara ini menyelipkan acara-acara lainnya, seperti acara syukuran, ulang tahun, dll.
Saat acara selesai, tuan rumah juga akan membagikan ikan sebagai luah (oleh-oleh) kepada yang hadir ataupun kepada orang yang kebetulan lewat.
Kegiatan ini bukan hanya sebagai ajang bersenang-senang, tetapi juga sebagai media untuk mengeratkan kembali hubungan kekeluargaan.
Biasanya, setelah kegiatan mburtasken tambak , dilanjut dengan acara ngerengkat (menyemaikan benih padi), untuk nantinya bibit padi yang telah tumbuh dan berusia 21 hari (3 Minggu) dicabut dan ditanam di kolam yang telah dikeringkan sebelumnya.
Selain mburtasken ataupun ngkerahi kolam, di Karo Jahé , juga ada dikenal tradisi nyoco lau (menguras air). Kegiatan ini bisa dilakukan saat musim kemarau, dimana air di parit (saluran irigasi) dan anak sungai sudah mulai mengering, sehingga anak kuta (warga kampung) akan berbondong-bondong untuk nyoco lau (menguras air) untuk mencari ikan-ikan yang ada di saluran air tersebut.
Belakangan, kegiatan yang demikian sudah jarang dilakukan, karena sistem persawahan yang biasanya berganti antara musim ternak ikan dan tanam padi tidak lagi diterapkan.
Banyak sekarang pemilik sawah yang hanya menternakkan ikan, apalagi setelah berkembangnya teknik penangkaran ikan yang belakangan memakai sistem corong dan pakan pelet. Dengan demikian, pertumbuhan ikan dapat diatur, sehingga pemilik kolam merasa lebih untung secara materi jika menternakkan ikan saja. // //