Transportasi Medan--dataran Tinggi Karo Belum
Hari minggu di awal November , saya menaiki salah satu armada bus umum trayek Kabanjahe-Medan. Seperti hari Minggu lainnya, penumpang biasanya lebih padat karena efek hari libur. Baik kepulangan anak sekolah, libur keluarga atau para pendaki gunung semua mendukung padatnya penumpang. Begitu berangkat dari di terminal Kabanjahe, penumpang hampir penuh kecuali “bangku tempel” alias kursi tambahan di dekat pintu tengah. Terlihat tangan seseorang memegang besi di jendela bus sambil berdiri di pintu tengah. Di bagian luar bus, terlihat 2 kaki berdiri di atas anak tangga untuk mendaki atap bus.[/caption] Di Berastagi, bangku tempel akhirnya diduduki 2 perempuan, seorang Lansia dan seorang gadis. Di dekat pintu tengah, ada 2 pendaki gunung berdiri dan 2 orang di belakang kursi depan atau belakang supir. Artinya, kapasitas penumpang telah melebihi tempat duduk normal.
Kesemua rangkaian ini adalah cermin pelayanan industri transportasi kita yang melemah. Reaksi penumpang turun sebelum tiba di tujuan merupakan bentuk kekecewaan yang mendalam. Hal yang sama terjadi 5 tahun lalu saat saya masih kuliah dan sampai hari ini belum banyak berubah. Pengusaha dan manajemen transportasi seharusnya melakukan transformasi dalam pelayanan ini. Industri bus ini tidak hanya memindahkan barang melainkan juga memindahkan jiwa manusia. Sebagai contoh menaggapi hal ini adalah menjalankan armada yang lebih saat hari Minggu. Atau tidak memberi armada disewa oleh pihak tertentu saat hari Minggu. Ada dua hal yang dapat kita lihat dari rangkaian ini. Pertama, mental pengusaha/ operator yang “serakah”. Hal ini ditandai dengan menaikkan penumpang melebihi kapasitas dalam keadaan sadar diri. Istilah lainnya adalah aji mumpung, mumpung sewa padat kenapa tidak (?). Ini juga sikap mental yang salah. Kita tidak pernah tahu berapa banyak yang membatalkan kunjungan ke tempat wisata Karo hanya karena susahnya armada menuju lokasi. Tidak hanya pihak otobus yang dirugikan melainkan juga sendi sendi industri wisata dan akhirnya Pemkab Karo.