Oleh: Bastanta P. Sembiring (Jambi)
Dalam satu film India (Kal Ho Naa Ho), dikisahkan: Di satu sudut Kota New York, berdiri dua restoran yang dimiliki oleh migran asal Asia yang saling berhadapan. Restoran pertama dimiliki oleh keluarga asal Tiongkok. Tampak jelas itu punya orang Tionghoa, karena bagunan yang diusung bertemakan ketiongkokan, serta dengan menu-menu khas Tionghoa. Restoran ke dua, tepat berdiri di seberang jalan dimiliki oleh keluarga asal India, tetapi mengusung tema dan menu Barat. Beberapa tahun kemudian, restoran yang dimiliki oleh orang India harus ditutup karena merugi akibat sepi pengunjung. Si pemilik tidak sanggup lagi menjalankan restoran itu, bahkan untuk sekedar bayar sewa gedung pun dia tidak sanggup lagi.
Padahal, di sisi lain, restoran Tiongkok yang tepat di depan makin lama makin ramai saja pengunjungnya. Tentunya ini menimbulkan tanda tanya besar.
Lalu, datanglah seorang pria [...]. Dia coba menjelaskan mengapa restoran itu sepi, sedangkan restoran di depannya tetap ramai.
"Coba lihat! Mereka sangat ramah menyambut datangnya pengunjung dan mereka tidak meninggalkan adat mereka. Bagaimana dengan kita?" kata pemuda itu meyakinkan si pemilik restoran.
Dengan usaha yang keras untuk meyakinkan teman-temannya membuka kembali restoran itu dengan mengusung tema Hindustani (India-red), maka mereka pun mencoba.
Awalnya, sempat mereka pesimis. Namun, beberapa saat kemudian sepasang Amerika pelanggan pertama datang dan bertanya: "Apakah restoranya sudah buka?" Diikuti pangunjung-pengunjung lainnya.
Dari cerita di atas, dapat kita berpendapat bahwa semangat etno-nasionalis yang selama ini kita tabukan kini menjadi trend dunia dan akan terus berkembang. Apakah nunggu bangkrut dulu baru kita mau berbicara tentang itu?
Mejuah-juah . //