Tumbuhan Ingul Bagi Suku
Sepengatahun penulis hanya Suku Karo yang mengkonsumsi daun suren. Menurut seorang dosen di Fakultas Kehutanan USU, pemanfaatan suren hanya untuk bahan bangunan karena memiliki kualitas yang sangat baik dan nilai dekoratif yang indah. Suren dimanfaatkan sebagai papan, peti, kayu perkapalan, seni ukir, mebel, alat musik, dan cerutu. Hal tersebut pernah dibuktikan oleh seorang petani dari Karo yang menyatakan kayu ingul yang digunakan sebagai pegangan cuan (sejenis cangkul untuk merumput) tahan lapuk dan tidak mudah patah. Suku Simalungun dan Suku Batak tidak mengkonsumsi daun Suren. Selain sebagai lalapan dan alat pertanian, orang-orang Karo menanam ingul di pinggiran lahan pertanian mereka sebagai pemecah angin dan sebagai pagar. Hal tersebut bisa dilihat di Kecamatan Barusjahe (Dataran Tinggi Karo). Menurut Ir. Andi Ruswandi, ingul memiliki kandungan bahan surenon, surenin dan surenolakton yang berperan sebagai penghambat pertumbuhan insektisida dan antifeedant. Bahan tersebut dapat menjadi pengusir atau penolak serangga termasuk nyamuk. Tidak menutup kemungkinan penanaman ingul di sekeliling lahan jeruk anda akan mengurangi serangan lalat buah. Menurut Nurkhayat daun suren tidak bisa digunakan sebagai pakan ternak karena dapat menyebabkan ternak mabuk. Ini menjadi keuntungan bagi anda penanam suren karena daun suren tidak akan pernah diambil oleh pencari gagaten (dedaunan makanan ternak).