Beranda / Warisan Warisan Budaya · 10 Januari 2015 Oleh: Arnem Tarigan (Sibolangit) Dulu Belanda membuka perkebunan di Indonesia untuk memudahkan pengawasan perkebunan mereka karena luasnya. Mereka membagi secara sistematika (pengelompokan dari terbesar hingga terkecil). Contoh, satu badan usaha (dulu ada PNP sekarang PTP) dibagi ke beberapa afdeling . Satu afdeling dibagi lagi ke onder afdeling hingga akhirnya ancak (beberapa kelompok kecil/ ancak dibawahi seorang mandor). Beberapa mandor diawasi oleh centeng. Demikian juga Belanda untuk memudahkan pengawasan pemerintahannya dibagi ke beberapa resident atas wilayahnya. Sebelum terbentuk SUMUT dikelompokkan ke dalam daerah BATAK. Ini hanya nama pengelompokan atas beberapa suku yang ada. Berarti, sebelum diberi nama oleh Belanda, ya KARO tetep Karo, TAPANULI ya tetap Tapanuli, MANDAILING ya tetap Mandailing. Masalahnya, apa orang lain yang mengatur JATI DIRI kita? Dengan sebutan BATAK yang mulanya hanya buatan Belanda untuk memudahkan mengawasi daerahnya? Kalau kita bertemu dengan saudara kita dari Jawa Barat (walau mereka tidak mau disebut orang Jawa) yaitu suku Sunda, maka setiap orang yang berasal dari PULAU SUMATERA mereka sebut orang BATAK. Setahu saya, orang Palembang keberatan disebut orang BATAK. Kenapa mereka sebut BATAK? Karena biasanya orang Palembang suka buat "ONAR". Buktinya orang Simalungun mengaku tetap Simalungun dan nama gereja mereka disebut GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun). Jadi, siapa yang berkeras pada pengelompokan orang Belanda "BATAK" seperti yang diidentikkan orang Jawa Barat, ya silakan saja, MONGGO, nina Kalak Jawa. Epe labo Jawa Barat. Rukurlah kita, siapai nge kita BIAK SIMEHULI, NTAH LANG BAGI CIPTAAN BELANDA. Kamlah nentuken Integritas ras Ideologindu nandangi geluhndu ras kesusurenndu. Kamlah erban kuan/kuan man sangkep geluhndu. BATAK pe kam labo dalih. Bujur ras Mejuah-juah. Salam KBB! Iklan