Agama Buddha Di Tanah
Selain Tionghoa, Tamil dan Jawa, ternyata Agama Buddha banyak dipeluk oleh masyarakat Karo. Tercatat nama-nama tokoh Buddhis yang berasal dari Karo, diantaranya : Bhikkhu Kanthadhammo, Channa Surbakti, Ndriken Sitepu, Gancih Sitepu (alm), Densi Ginting, Nenteng Barus, dan banyak lagi. Upaya ini telah mulai dirintis oleh Bhikkhu Jinadhammo sejak tahun 1984. Dan, saat ini, jumlah orang Karo yang memeluk Agama Buddha semakin meningkat. Bahkan diantara mereka ada yang telah fasih dalam melafalkan Paritta dan menjadi Tokoh Agama Buddha. Untuk inilah, Bhikkhu Jinadhammo juga merintis pembangunan vihara dan cetiya untuk Suku Karo, antara lain Cetiya Sakya Kirti (Parangguam Male), Vihara Kassapa (Desa Turangi), Vihara Sangha Ramsi (Sibiru-biru), Vihara Sriwijaya (Desa Parangguam Baru) dan Vihara Buddha Sikhi (Besadi). Dimulai dari Desa Parangguam. Sebelum memeluk agama Buddha, orang Karo menganut kepercayaan Pemena dan berpegang teguh pada Adat. Atas inisiatif Dirjen Sitepu, Johan Sitepu dan Gandih Sitepu, mereka pun mencari Bhikkhu Jinadhammo di Vihara Borobudur Medan untuk memohon kepada beliau agar melakukan pembinaan secara Buddhis terhadap masyarakat Karo yang ada di Desa Parangguam.
Bhikkhu Jinadhammo merupakan salah satu dari lima bhikkhu yang pertama kali ditahbiskan setelah Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, di Candi Borobudur pada tahun 1970. Beliau juga termasuk sebagai bhikkhu dengan vassa tertua di Indonesia yang masih tetap lincah dan bersemangat dalam mengembangkan Buddha Dharma, khususnya di Indonesia. Ia dikagumi Umat Buddha bukan saja karena kesederhanaan hidupnya tetapi juga keteguhan prinsipnya. Vihara Sriwijaya. Foto: SALMEN KEMBAREN[/caption]