Berita Foto: Persebaya 1927
ITA APULINA TARIGAN. SURABAYA. Beberapa minggu terakhir ini di beberapa sudut Kota Surabaya terlihat spanduk-spanduk tulisan tangan bermunculan. Umumnya spanduk berwarna putih dan dicat tulisan berwarna-warni. Spanduk-spanduk ini adalah ungkapan rasa para pendukung Persebaya 1927, yang terkenal dengan julukan Bonek (Bondo nekad = Modal nekad).
Disarikan dari berbagai sumber, di Tahun 2010, Persebaya tengah berkonflik dan degradasi dari Divisi Utama. Agar Persebaya dapat terus bertanding, pengurus bersama-sama dengan pengusaha Arifin Panigoro mendirikan kompetisi tandingan Liga Primer Indonesia (LPI). Nama Persebaya ditambah menjadi Persebaya 1927. Sementara di lain pihak, ada team Persebaya yang lain tetapi dengan nama baru yaitu Persikubar Surabaya, dimana pemainnya berasal dari Kutai Barat, tetapi menggunakan homebase Persebaya sebagai tempat latihan mereka. Hal inilah yang membangkitkan amarah para pendukung Persebaya 1927 alias bonek.
Ungkapan hati mereka jelas terlihat di mural dan spanduk-spanduk yang terpasang.
"Sejarah hanya bisa dibuat, sejarah tidak bisa dibeli," demikian salah satu bunyinya.
"Mereka bisa saja membeli nama Surabaya, tetapi roh dan jiwa Persebaya beserta bonek-nya, tidak ada pada mereka," demikian ungkapan mereka.