Catatan Peziarah (3): The Power Of
Ketika teman-teman kerja mengetahui saya mau pergi ke Belanda, para lelaki ini berebut titip oleh-oleh, yaitu cimeng alias ganja. Kegenitan mereka dapat saya maklumi. Maklum karena mereka warga Negara Singapur atau Malaysia yang hukumnya berat sangat jika terlibat dengan ganja, sama dengan Indonesia. Tetapi, tentu saja saya tolak mentah-mentah. Mau bunuh diri apa? Meski mereka bilang kini ada rokok merek Marl*o*o yang mengandung ganja dan aman, tetap saja saya tolak.
Setiap weekend gerombolan anak muda Jerman mengunjungi Amsterdam demi cimeng dan pulangnya mereka mengantongi bekal untuk menunggu weekend berikutnya. Nah, tidak jarang mereka tertangkap saat razia dan sanksinya tidak main-main. Sejak pertama mendarat di Schiphol, lalu menuju Leiden saya sudah jelalatan mencari kedai penjual cimeng. Kedai harapan saya bukan sembarang kedai, tempat menjual ganja malah mereka namakan coffee shop (warung kopi), tertutup dan rapi. Ahhh…gagal saya menyaksikan drama orang-orang mabuk cimeng. Padahal di kepala sudah ada bayangan wajah-wajah semacam rastafara, rambut gimbal dan gaya-gaya hippies lainnya.
Suatu sore sehabis mengunjungi Molen de Valk (kincir angin di pusat Kota Leiden), sembari menunggu bis ke arah Leyhof, saya tersadar tidak jauh dari halte ada café yang dimaksud. Sore itu masih Pukul 16.40. Sebaris manusia memanjang rapi, mengantri. Pakaian rapi, klimis, wajah riang sehat dan gembira, ada yang menuntun anjing, ada yang membawa tas belanjaan. “Lihat, tunggu saja sebentar lagi pukul 17.00, lihat apa yang terjadi,” kata Bang Juara. Saya memusatkan perhatian. Tepat pukul 17.00 pintu café terbuka, seorang pria muda rapi mengucapkan selamat sore dan mempersilahkan para pengantri masuk satu per satu. Satu per satu pula mereka keluar dari toko dengan senyuman. Sebagian ada yang mulai menyulut rokok sambil berjalan. Bau cimeng menguar. Ada yang menyimpan cimeng di dalam kantong. Tenang dan damai, seolah seperti suasana antrian atm. “Para penggemar cimeng ini ternyata santun-santun,” bathinku.
“Jangan banyak-banyak, kam belum pernah. Pelan-pean saja,” katanya.
Setelah 10 hisapan, saya masuk ke rumah.