Catatan Peziarah (4): Gairah Si Binatang
Apa tidak malu? Walaupun puisi ini sangat heroik, "binatang jalang" membuatnya bukan menjadi pilihan untuk dibacakan di depan kelas. Aku ini binatang jalang, nggak deh. Beranjak dewasa pengenalan akan Chairil Anwar dan puisi-puisinya membuat si binatang jalang menjadi imajinasi dan penyemangat apalagi jika membaca frasa penutup aku mau hidup seribu tahun lagi. Sekitar 14 tahun lagi saya mendapat kabar, kalau AKU diabadikan di dinding rumah warga di Kota Leiden. Sehingga, dalam list perjalanan mengunjungi binatang jalang masuk dalam prioritas. Bayangkan, menyaksikan puisi Chairil Anwar diabadikan di kota lain yang beribu kilometer jauhnya dari Tanah Air. Bergairah sekali rasanya membayangkan berfoto di bawah puisi AKU.
Dan, sampai sekarang kita masih mengenang dan mengagumi karyanya.