Cerita Rakyat: Batu Lengka Di Kuta Batu (karo
Menurut versi lain dari cerita ini, ada orang yang sekujur tubuhnya luka borok sedang berendam di lubuk sungai ini yang kemudian ditindih oleh Batu Lengka yang bergulir dari puncak tebing. Batu Lengka yang membagi dua aliran sungai Lau Belawan (Sungai Tuntungan)[/caption] Diakui oleh Bapa Njoto, tidak ada yang tahu kapan kejadiannya. Hanya berdasarkan cerita masyarakat setempat secara turun temurun bahwa batu ini merupakan batu yang terbesar di sepanjang alur sungai. Posisi batu persis membelah sungai menjadi dua aliran. Konon ceritanya batu tersebut menindih seseorang bermarga Sinulingga yang sedang memancing di tepian sungai Lau Belawan ini. Karena itu, disebut Batu Lengka (Langka).
"Ada yang menjadikannya jinujung oleh kami merga Ginting Munte selaku anak beru kampung ini," kata Bapa Njoto. Bapa Njoto Ginting Munte (depan) dan istrinya (belakang)[/caption]
"Kalau gak ketemu cara mengobatinya bisa meninggal. Makanya tempat ini masih banyak ikannya. Kalau kita punya banyak waktu lain kali kita bisa mengambil ikan-ikan ini," kata Buncar Surbakti menambahkan. Sebuah rumah di perkampungan Kuta Batu (Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaen Deliserdang) yang merupakan bagian dari Karo Hilir.[/caption] Ada cerita lain di kampung ini yang menarik. Di zaman Penjajahan Belanda, ada serdadu Belanda buang hajat dan menggunakan daun-daunan sebagai pembersihnya. Orang Belanda itu mati terbunuh karena daun-daunan itu yang telah diberi bisa (racun mematikan racikan orang Karo). Setiap serdadu Belanda yang melewati jalan ini banyak yang mati karena kena racun yang sudah dilumuri ke daun-daun yang diramalkan dipergunakan sebagai pembersih lubang dubur setelah buang hjat. // //