Guru Beru Kemit Akan Pimpin Erpangir Ku Lau
LORETA KARO SEKALI. MEDAN. Setelah beraudiensi ke Kepala BBKSDA (Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam), pada hari yang sama , Panitia Ritual Mandi Keramas (Erpangir Ku Lau) Sumut mengunjungi Ketua Komunitas Sada Perarih, Beru Kemit, di Medan Johor.
Sada Perarih adalah sebuah organisasi yang para anggotanya adalah para dukun Karo (guru ) yang secara rutin mengadakan ritual mandi keramas di tempat keramat yang sekaligus tempat wisata Lau Debuk-debuk di kaki Gunung Sibayak. Beru Kemit menjelaskan kepada panitia segala keperluan melaksanakan ritual erpangir .[/caption] "Komunitas Sada Perarih sudah sangat merindukan kegiatan seperti ini dilakukan kembali untuk mempertahankan warisan leluhur bangsa," kata Beru Kemit setelah mendengar rencana akan diadakannya ritual mandi keramas (erpangir ku lau ) di Lau Debuk-debuk. Beru Kemit sangat antusias dengsn kegiatan ini dan menjelaskan apa saja yang perlu dipersiapkan untuk penyelenggaraan upacara ritual ini.
Bu Kemit adalah salah seorang diantara masih banyak dukun Karo di Kota Medan yang jasanya sering diminta untuk melaksanakan berbagai ritual Karo khususnya dalam rangka penyembuhan. Beru Kemit saat memulai sebuah ritual mandi keramas di Lau Debuk-debuk. Foto: ITA APULINA TARIGAN.[/caption]
Jumlah dukun Karo meningkat drastis sejak diadakannya ritual erpangir di Lau Debuk-debuk pada tahun 1967. Sebagaimana dipaparkan oleh antropolog Juara R. Ginting dalam tulisannya yang berjudul "Hinduism in Karo Society ", ritual ini diadakan terkait peresmian tempat upacara Jamburta Ras, Berastagi, dan sekaligus peresmian organisasi bernama Balai Pustaka Adat Merga Silima. Sebagai dukun utama dalam ritual itu adalah pecatur legendaris Narsar (Pa Kantur) Purba yang saat itu sedang naik daun karena baru saja Dr. Max Euwe dari Belanda menjadi Juara Dunia Catur. Pa Kantur naik daun karena dia pernah menahan remise Max Euwe dalam sebuah pertandingan.