Jeruk Karo Bukan Lagi
Pada tahun 2010 luas tanaman jeruk yang berproduksi di Kabupaten Karo seluas 10.000 Ha, dengan produktifitas 30.000 kg/Ha/Thn, harga jual rata-rata Rp. 5.000/kg sementara biaya produksi hanya sebesar Rp. 2.000/kg. Semenjak mengganasnya serangan hama lalat buah setiap tahunnya luasan tanaman jeruk yang dipelihara semakin berkurang sampai tahun 2016 ini yang bertahan hanya sekitar 20% saja dan yang masih bertahan dengan produksi 10.000 s/d 15.000 kg/Ha/ Thn dan harga jual rata-rata masih seputaran Rp. 5.000/kg. Itupun dengan biaya produksi yang sangat tinggi (Rp. 4.000/ kg) untuk mengatasi serangan hama tersebut. Dari data tersebut di atas, maka perputaran uang di tingkat petani jeruk hilang sekitar Rp. 1,15 T setiap tahunnya. Itu membuat perekonomian di daerah ini secara keseluruhan menjadi lesu. Tanaman Jeruk Karo saat ini bukan lagi menjadi primadona, bahkan sudah menjadi momok yang sangat menakutkan bagaikan Harimau yang menerkam tuannya sendiri. Kini, sebahagian besar petani jeruk sudah mulai beralih menanam tanaman kopi Arabica di sela-sela tanaman jeruk mereka yang sudah meranggas. Namun, kejayaan tanaman jeruk belum bisa ditandingi oleh tanaman kopi ini.
- Tidak adanya keseriusan Pemkab Karo untuk mengantisipasi penanggulangan hama lalat buah ini.
Beberapa saran saya untuk menanggulangi hama lalat buah ini adalah sebagai berikut: