Jokowi Berdaya Magis, Paksa Pks Merapat, Fahri Hamzah Lengser,
Sudah banyak korban dari kharisma Jokowi itu. Amin Rais terpaksa mengkhianati janjinya: “Jalan kaki dari Jogyakarta-Jakarta bolak-balik bila Jokowi menang jadi presiden”. Musikus Ahmad Dhani terpaksa menanggung malu karena dia pernah berkata: “Saya akan potong kemaluan saya kalau Jokowi bisa menang dari Prabowo Subianto!! Itu sumpah saya”.
Luhut Sitompul terpaksa menelan kembali ludahnya: “Siapa Jokowi? Anak kos, anak numpang, kok nyapres? Jika Jokowi Capres, Indonesia tunggu kehancuran”. Lalu beberapa bulan kemudian, Luhut bertobat dan mengatakan bahwa Jokowi tak bisa dihalangi menjadi Presiden, dia dikehendaki Tuhan.
Mungkin perkataan Jusuf Kalla: “Kalau Jokowi Presiden, bisa hancur negara ini”, masih terngiang-ngiang di telinga publik. Nyatanya, Jusuf Kalla tak kuasa menolak daya magis Jokowi ketika dia dijadikan sebagai Wapresnya Jokowi. Bersama Jokowi, Kalla kemudian terlihat ‘mati kutu’ dan tak bisa kembali melakoni perannya sebagai ‘the real president’ saat menjadi wakil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Kejujuran Jokowi telah membuat Setya Novanto lengser dari posisinya, Ketua DPR. Rekannya Muhammad Reza Chalid yang selama ini disebut mafia yang tak tersentuh, terpaksa kabur dan bersembunyi ke luar negeri. Sepenggal kalimat yang berdaya magis Jokowi: “MKD hendaknya memperhatikan keinginan publik”, telah menghentak dan membuat 17 hakim MKD terpaksa mengakui bahwa Setya Novanto bersalah dan melanggar kode etik.
Sekarang tidak ada pilihan lain bagi PKS yang dikomandoi Sohibul Iman, selain merapat kepada Jokowi. Kalkulasi matematika PKS berkesimpulan bahwa menentang dan melawan terus Jokowi sama dengan bunuh diri. Karena itu PKS merubah langkah mereka, merapat dan meniti jalan kemesraan kepada Jokowi. Apalagi PKS telah melihat bahwa ke depan di zaman Jokowi, ekonomi bakal meroket.