Kabupatennya Suku
"Njuah-juah, bang," katanya menyapa. "Mejuah-juah, ada apa?" sahutku. "Bisa kita ketemu, bang?" katanya lagi. Saya mendengar suaranya cerah ceria. Jangan-jangan dapat lotere kawan ini, gumamku dalam hati. Saya langsung menjawab, bisa! Singkatnya, Bertemulah kami di kedei kopi "Pa Geleng" di Simpang Sempakata. Langsung dia memesan teh susu buat saya. "Apa rokok, abang?" katanya lagi. Ilustrasi: DARUL KAMAL LINGGA GAYO (Tigabinanga)[/caption] Betul-betulah si kawan dapat rejeki ini pikirku. Setelah berbasa-basi sejenak, kawan saya ini mengatakan : "Orang Pakpak sudah merdeka, bang," katanya. Saya sangat terkejut, karena yang saya tahu orang Indonesia sudah merdeka, termasuk juga Pakpak.
Lalu saya bilang: "Ah, ada-ada saja kau. Orang Pakpak bukan Indonesia rupanya?"
Kemudian teman saya ini pun curhat kepada saya.
"Bang, coba abang ke Sidikalang, bahasa apa yang paling sering abang dengar di sana?" katanya.
Saya pun menjawab: "Batak Toba."
Lantas, dia memotong ucapan saya.
"Jangan abang bilang Batak Toba. Tapi Batak. Gitu aja," katanya.
Lalu dia tanya lagi: "Bupatinya orang apa?
Dia tanya lagi: "Kalau abang ke loket bus (dia menyebut salah satu merk bus), mandornya orang apa?"
Saya jawab lagi, walaupun saya sebenarnya sudah capek: "Batak."
Karena tidak puas, saya pun berkata: "Bukankah Tanah Dairimilik orang Pakpak?"
Saya berdoa, mudah-mudahan Karo tidak seperti itu suatu saat nanti. // //