Kerajaan Urung Senembah (bagian
A. Urung Senembah Patumbak Taduken Raga 7. Raja Kamaluddin Barus (1780-1856M)[/one_fourth]
Raja Kamaludin Barus menjadi penerus tahta Senembah saat Ranjuna Barus wafat tahun 1780 M. Raja Kamaluddin Barus dikenal anti Siak dan Deli, sehingga pada masanya memerintah Senembah Taduken Raga, diketahui dua kali dia memukul mundur Siak dari Tanah Senembah. Kegagalan Siak ini dikarenakan seluruh keturunan Simbelang Pinggel yang terdiri dari sembuyak, anak beru, kalimbubu, dan senina, bahu membahu melawan Siak.
Setelah penyerangan Siak, untuk lebih mudah mengontrol wilayahnya yang cukup luas, Kamaluddin Barus pun pindah ke Patumbak Hulu dan menetap di sana. Sementara itu, saudara Kamaluddin Barus yakni Sutan Saidi Barus ditabalkan pula oleh Sultan Serdang menjadi Kejuruan Sri Diraja Sultan Serdang Senembah Tanjung Muda pada tahun 1810M. Munculnya Kejuruan Sinembah Tanjung Muda ini menambah kekuatan Senembah.
Peristiwa pengangkatan Sutan Saidi Barus oleh Raja Serdang Ainan Johan memancing emosi Kesultanan Deli yang memang tidak pernah menyukai Senembah. Sultan Deli, Sultan Amaluddin Mangedar Alam kemudian melakukan hal yang sama yakni dengan menetapkan putra Ganjeras Barus yang bernama Merah Deli Barus sebagai Kurnia Sultan Al Wasubillah Kejuruan Senembah Sri Karma Raja Kilad Deli tahun 1814. Selain itu, Sultan Deli bahkan menerapkan sistem lembaga 4 suku merujuk seperti sistem yang diterapkan di Siak, dimana posisi datuk 4 suku berada sepenuhnya di bawah kendali kesultanan.
"Hal ini tentunya ditentang oleh Urung Sunggal, Sepuludua Kuta dan Sukapiring yang beranggapan bahwa Negeri Urung adalah negeri yang merdeka. Karena menentang, akhirnya Sultan Amaluddin Mangedar Alam menyerang negeri-negeri urung seperti Sunggal, Suka Piring dan XII Kuta, " lanjut Wan Chaidir.
Sultan Amaluddin memerintahkan kepada Merah Deli Barus untuk menyerang Senembah. Akhirnya terjadilah perang saudara antara keluarga Senembah. Sementara itu, akibat dari tindakan Sultan Amaluddin Mangedar Alam, maka terjadi perlawanan dari Raja-raja Urung seperti yang dilakukan Sunggal yang langsung menyatakan keluar dari Konfederasi Deli. Serta membuat bendera, lambang dan cap sendiri.
Tindakan Raja Sunggal Amar Laut Surbakti yang menyatakan Sunggal keluar dari Konfederasi Deli membuat Kesultanan Deli marah dan akhirnya Deli dibantu Siak menyerang Sunggal. Namun, penyerangan itu tidak berhasil karena Sunggal kembali dibantu oleh Senembah.
Sultan Amaluddin Mangedar Alam benar-benar marah dan kecewa karena ketidakmampuannya menaklukkan Senembah. Merah Deli Barus yang diharapkannya mampu menaklukkan Kamaluddin Barus ternyata tidak dapat berbuat banyak. Sultan Deli itu kemudian mencari cara lain. Onderneming Patumbah (Patumbak) di wilayh Urung Senembah.[/caption]
Syahdewa Barus kemudian menikah dengan adik Tengku Matsih, Kejuruan Percut. Entah karena cinta atau karena kepentingan politik, namun yang jelas karena perkawinan itu wilayah Senembah akhirnya mulai berkurang. Hal ini dikarenakan Tengku Matseh memberikan syarat akan menerima pinangan Syahdewa bila sebagian daerah Sinembah mulai dari Amplas hingga ke Percut menjadi wilayah Percut. Penampilan tari dan musik Karo oleh Sanggar Seni Sirulo di Hotel Tiara, Medan.[/caption] Selain berkurangnya wilayah Senembah di bagian hilir, di bagian hulunya juga demikian karena disebabkan oleh adik Sultan Serdang yang bernama Pangeran Mohammad Yasin menikahi putri keluarga Senembah dari Perbapaan Utama di Tanjung Muda yang kemudian mengklaim wilayah itu menjadi miliknya. Bila sebelumnya wilayah Tanjung Muda merupakan bagian dari wilayah Senembah maka setelah Pangeran Muhammad Yasin tinggal di tempat itu maka Tanjung Muda pun terlepas dari Senembah. Bukan itu saja, kedudukan Pangeran Muhammad Yasin yang menjadi wakil Sultan Serdang dimanfaatkannya untuk mencaplok wilayah Senembah lainnya seperti Sienam Kuta dan Sinipurba.