Ketika Buaya Keramat Mencuri Manusia Di Tepian Sungai Lembang
Sela beberapa menit setelah kejadian, raja sungai ini muncul ke permukaan dengan memperlihatkan jasad korban di mulutnya, dalam kondisi tidak bernyawa lagi dan selanjutnya menghilang. Melihat situasi yang terjadi, dua rekan korban lainnya berlari menuju rumah pimpinan pondok pesantren, untuk menyampaikan informasi musibah yang terjadi di tepi sungai. Berita musibah yang menimpa santri tersebut diteruskan ke pemuka adat setempat, MUSPIKA dan MUSPIDA. Pencarian terhadap buaya yang menerkam manusia di kampung.[/caption] Pada hari yang sama lokasi kejadian dibanjiri pengunjung untuk menyaksikan prosesi pencarian korban. Pencarian korban dilakukan oleh tim gabungan yaitu pawang buaya, SAR, BPBD, MUSPIKA, TNGL, BKSDA dan warga. Koordinator lapangan langsung dipandu oleh Kapolres Aceh Selatan. Tim memutuskan masa pencarian korban selama 3 hari, mengingat waktu telah mendekati lebaran Idul Adha.
Berdasarkan hasil musyawarah tokoh masyarakat adat dan ahli waris, buaya yang telah menelan korban jiwa tersebut, secepatnya dilakukan penangkapan dengan bantuan seorang pawang. Pawang buaya didatangkan masyarakat, dari Desa Kapung Tinggi (Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan). Pawang ini merupakan anak dari Pawang Tua. Setelah orangtua beliau menutup usia, maka ilmu kepawangan diwariskan kepada anaknya. Tubuh buaya saat hendak ditanam.[/caption] Warga bersama dengan Pawang Buaya memasang jerat di lokasi kejadian . Jarak 2 hari setelah jerat dipasang, buaya yang diyakini pawang bersalah pasti ditemukan. Buaya dengan ukuran panjang sekitar 2,5 meter ditemukan di lokasi pemasangan jerat dalam kondisi mati dan digiring ke daratan yaitu di halaman pesantren . Prosesi penyambutan serta penguburannya dilakukan sesuai resam (kearifan lokal) masyarakat pada umumnya di Daerah Aceh Selatan, serta disesuaikan dengan syarat- syarat pawang yaitu dengan menggelar pesta adat; memasang tenda adat sebagai media penyambutan, persiapan bahan dan kelengkapan lainnya seperti perangkat tepung tawar, kain kapan dan sebagainya. Prosesi penyambutan, berlangsung sampai pada Pukul 17.00 Wib. Selanjutnya penanaman, dilaksanakan di dalam lingkungan Pondok Pesantren, tempat selama ini korban menimba ilmu agama.