Keyakinan Suku
Tetapi, waktu pulalah yang telah mempertontonkan hal yang terbalik dari semua peristiwa interaksi budaya ini, dimana tamu telah merasa menjadi tuan rumah, menghakimi si pemilik tempat, menista, menganggap sesat dan merasa lebih mulia dan suci. Apa ini tidak keblinger namanya? Satu keganjilan yang diselundupkan dikemas dengan bahasa surga, ditampilkan dengan kesan penuh cinta kasih dan kedamaian, dibuai dengan janji-janji hidup dalam keabadian, dan siapapun yang larut terbuai akan menggadaikan segalanya demi memperoleh itu semua. Seperti yang saya sampaikan tadi, fakta telah jungkir balik adanya, terutama dalam hal ststistik. Ya, dominasi hati masyarakat berlabuh pada tamu yang menawarkan kehangatan. Sangkin hangatnya, si tuan rumah lupa jika tamu tetap lah tamu.Ia diberi kebebasan untuk tinggal, diberi kamar oleh situan rumah untuk tidur sampai waktu yang ia inginkan. Alhasil apa yang terjadi?