Kolom Aletheia Veritas:
Jawaban dosen tua tersebut pasti bergurau. Tapi, gurauan itu sebenarnya mengandung makna yang barangkali juga semacam peringatan. Bahwa pemberian nama, dan peng-Arab-an, atau Peng-Eropa-an nama sebenarnya tak menambah lebih bagi sebuah mesjid atau gereja. Hanya sedikit menambah keren.
Yang tak kita pikirkan adalah semangat untuk menegaskan sebuah nama yang berbau Latin, Eropa, atau Arab tak selalu jelas dari mana dan akan ke mana. Mungkin adat Kristen memang demikian untuk pemberian nama babtis dan gereja, misalnya Gereja Santo Petrus atau Gereja Yohanes Rasul. Seorang yang bernama Butet menjadi Benedicta Butet atau si Tongat menjadi Benedictus Tongat setelah dibabtis.
Pemberian nama babtis memiliki makna dan identitas tersendiri bagi Butet atau Tongat. Atau sebagaimana halnya pemberian nama Arab bagi seorang mualaf atau seorang yang melakukan konversi ke agama Islam, mungkin juga meniru pemberian nama babtis: Leonardo Dicaprio seandainya masuk Islam, mungkin ganti nama menjadi Syaiful Jamil. Namun terkadang yang lebih penting bagi kita adalah bunyi dan nama yang berbau Latin, Eropa atau Arab agar identitas kita bisa diketahui oleh orang lain. Dulu, ritual pemberian nama tidaklah terlalu penting. Di Tanah Karo seorang ibu bisa memberikan nama Kursi, Meja atau Tomat kepada puteranya yang baru lahir, dan sang anak pun tetap tumbuh menjadi anak yang cerdas dan beriman entah namanya Michael atau Ucok. Tapi sejak modernisasi dan agama modern masuk ke Indonesia, dan di wilayah yang riuh dan bermacam-macam isinya, yang kadang mengkhawatirkan gerak-geriknya, nama menjadi sangat penting, identitas perlu untuk menunjukkan bahwa saya seorang Katolik atau seorang Islam.
Ketika pemerkosa perempuan Tionghoa berhasil melampiaskan kebejatannya maka ia menganggap identitas sebagai orang Cina tiba-tiba lebih rendah dari identitasnya sendiri. Begitu juga konflik yang terjadi antar agama, maka umat yang satu akan merasa lebih superior dari umat lainnya ketika bisa menang dalam debat dogmatis atau ketika bisa membunuh orang lain yang menganut agama yang berbeda. Tentu banyak sederet kisah yang menampilkan bagaimana kelompok-kelompok di dalam masyarakat Indonesia yang plural berupaya untuk mempertegas identitasnya. Proses pembentukan sikap permusuhan terhadap identitas tertentu sebenarnya tidak bisa dibedakan antar etnis. Peter Gay menjelaskan proses tersebut dengan sangat menarik: “Mula-mula, kita melihat marah kepada diri sendiri, “Aku jelek”; kemudian kita meyakinkan diri sendiri dengan menegaskan, “Aku (sebetulnya) tidak jelek”, akhirnya pandangan kita arahkan pada orang lain dan bilang, “Kamu jelek”. Psikoanalisis memang tak bisa dilupakan ketika menjelaskan politik identitas. Gay lebih lanjut mengatakan bahwa kebanggaan dan kecemasan etnis dalam banyak hal tak bisa dibedakan. Dengan demikian, politik identitas bisa jadi muncul karena ada situasi kejiwaan tertentu dalam diri sendiri atau kelompok tertentu yang tidak siap menerima diri sendiri atau juga tidak siap menerima perbedaan dengan golongan lainnya.