Kolom Aletheia Veritas: Negara [hampir]
Saya tertawa kecil menanggapi komentar itu.
"Ah, tidak! Kami makan sepuasnya. Kami masih bisa 'kumpul-kumpul'. Kami masih bisa jalan-jalan. Kami masih bisa tertawa," jawab saya dengan santai sembari menyeruput kopi.
"How?" matanya masih tekun membaca artikel-artikel refleksi lapangan yang saya tulis.
"Well, meski negara nyaris 'absen', masyarakat sipil ('civil society') kami, cukup tangguh. Kehidupan kami dibangun di atas komunitas, khususnya gereja dan juga para tetangga. Kalau kami lapar, kami bisa pinjam beras ke tetangga. Kalau kami kehabisan garam, kami bisa mengetuk pintu tetangga. Kalau kami sakit, komunitas gereja dan tetangga akan datang menjenguk. Kalau kami butuh rekreasi, kami akan pergi bersama-sama. Begitu kehidupan kami," jawab saya.
"Our society put so much effort on this. Meski tak mereka sadari!" tegas saya.