Kolom Aletheia Veritas: Stigma
Beberapa hari yang lalu, saya 'ngobrol' via telepon genggam dengan salah satu mantan mahasiswi saya yang sekarang telah bekerja di sebuah instansi pemerintah di Pulau Jawa. Ia berasal dari Jawa Tengah dan pernah tinggal di Labuhan Batu selama beberapa tahun.
"Mbak tahu pandangan orang banyak tentang suku Jawa belasan tahun lalu di Sumatera utara?" tanyanya.
"Iya Ren, saya tahu," jawab saya singkat tanpa berminat menjelaskan pandangan tersebut.
"Dulu, orang Jawa dikatakan suka makan kutu, Mbak," katanya sambil tertawa.
"Oh ya?" respon saya, pura-pura terkejut karena ingin menjaga perasaannya.
"Mereka kan tahu sendiri kalau di level nasional, orang-orang Jawa yang banyak menjadi tokoh. Bahkan RI 1 pun selalu punya latar belakang etnis Jawa," jawab saya sambil tersenyum meski ia tak bisa melihat. "Nah, Mbak tahu pandangan kami orang-orang Jawa mengenai orang-orang Batak di sana?" tanyanya lagi. Kali ini saya segera meminta kejelasan pertanyaannya. "Ada beberapa kategori Suku Batak menurut versi pemerintah dan sejarawan, Ren," ujar saya. Sebelum saya melanjutkan pernyataan saya, ia segera memotong.
"Orang-orang Karo baik-baik saja, Mbak," jawabnya sambil tertawa mencurigakan.
"Heiiiii! Awas kau ambil bungaku, ya! Kuguna-gunai kau nanti!" teriaknya (hahahahaha ? )
"Ah, tapi kami juga menanggung stigma diantara saudara-saudari satu etnis, Mbak," katanya lagi.