Kolom Antonius Bangun: Serumah Dengan
Seketika, dari terang berkilau, aku turun, masuk ke rumahku, fana.
Lalu kudengar adik-adikku menyapa sambil menyebut nama masing-masing.
"Bang, ini Sisca. Kami datang melihat abang, mau berdoa agar abang cepat sembuh."
Berbarengan terdengar suara Nius, Tavip dan Henry disertai isteri dan anak-anak mereka. Semua menyapa, menyatakan kehadirannya, dengan suara yang keras. Aku sangat senang dan sayang mereka semua. Aku segera bangkit duduk, tapi tidak bergerak. Aku masih tetap tertidur. Kujulurkan tanganku hendak merangkul, tapi itu pun tidak bergerak. Kubuka mataku, aku tidak melihat. Mengapa begini? Mengapa tidak bergerak, tidak bisa melihat? Aku harus bisa. Aku coba lagi bangkit, coba lagi dan tetap tidak bisa. Aku sangat sedih, kenapa semuanya tidak bisa kugerakkan? Kenapa aku tidak melihat.