Kolom Asaaro Lahagu: Ada Ahok Di Balik Kehebohan Om
Aktivitas om telolet om itu yang diketahui asli berasal dari Indonesia, menjadi heboh setelah dipopulerkan oleh artis luar negeri. Tersebut misalnya DJ Snake, Martin Garrix, Marshmellow, ikut mengunggah video om telolet om itu. Hasilnya dalam sekejap om telolet om menjadi viral di dunia maya.
Pertanyaannya adalah mengapa artis luar juga ikut menghebohkan om telolet om itu? Jawabannya, nalar sebagian masyarakat Indonesia saat ini lagi heboh dan saatnya untuk mengambil untung. Begitulah kira-kira logikanya. Saat Indonesia lagi suntuk dan jenuh karena Ahok, Indonesia butuh hiburan berbau konyol.
Jika anda melihat aktivitas om telolet om itu terlihat lucu, geli dan bahkan terlihat konyol, jangan heran. Alasannya, itulah gambaran politik dan sosial di Indonesia saat ini yang terlihat lucu, geli, konyol dan seolah tak bernalar. Beberapa contoh berikut ini mencerminkan nalar sebagian masyarakat Indonesia. Dan semuanya terkait kasus Ahok.
Gara-gara sebaris ucapan Ahok: “Dibohongi pakai Surat Al-Maidah ayat 51”, Indonesia langsung heboh. Tak tanggung-tanggung, ada tiga kali demo skala besar yang melibatkan ratusan ribu bahkan jutaan pendemo dengan anggaran ratusan miliar. Secara akal sehat kejadian ini sulit dimengerti, sama halnya dengan om telolet om itu. Heboh, gaduh, antusias, lalu sebentar hilang.
Pengadilan juga ikut-ikutan heboh. Gara-gara Ahok membuka kebenaran bahwa ada banyak politikus busuk menggunakan ayat suci untuk membungkamnya dan bukan adu program, malah ia menjadi terdakwa atas ucapannya itu. Di pengadilan, Jaksa mencap Ahok sebagai orang yang paling benar karena memaksa pihak lain harus menggunakan metode adu program untuk memenangkan kursi kepala daerah. Bagi Jaksa ini tidak benar, karena hal lain yang diadu juga boleh.
Padahal soal adu program di Pilkada, memang itu nomor satu dan itu yang paling penting karena calon kepala daerah yang ingin terpilih memang harus jelas program-programnya. Jadi Ahok sudah benar. Justru menggunakan Surat Al-Maidah sebagai senjata untuk menyerang calon kepala daerah lain, adalah tindakan pengecut. Berkamuflase di balik ayat yang ditafsirkan sendiri karena tidak punya program jelas, adalah tindakan para politikus busuk. Lalu mengapa Ahok disalahkan jika yang sudah benar dibelanya mati-matian?