Kolom Asaaro Lahagu: Ahok 50 Tahun, Disengat Mafia Tanah
Ketika Ahok mencapai umur 50 tahun , maka ia matang sempurna bertempur penuh energi bertarung dengan para maling APBD, koruptor proyek, tikus-tikus pengusaha dan preman liar penyerobot lahan negara. Jika Ahok terus-menerus diserang di berbagai lini dan ia terlihat semakin asyik bertarung, tak terkalahkan, tak kenal lelah, itu karena umurnya yang 50 tahun, umur emas paling matang dalam berpolitik.
Ahok jelas telah memaknai sejarah hidupnya yang 50 tahun dan memunculkan dirinya di depan publik sebagai pejuang, pedobrak dan penghancur kebiasaan para politikus kotor. Ahok muncul sebagai cahaya keadilan sosial di tengah kebobrokan para elit politik dan penguasa. Figuritas Ahok ini, jelas membuat iri para politikus yang lain. Berbeda dengan para politikus semacam Lulung, Fadli Zon, Fahri Hamzah, Muhammad Taufik, Muhammad Sanusi, Hary Azhar (kini ketua BPK), Yusril, Ahmad Dhani, yang memang berhasil memunculkan dirinya di muka publik namun sarat dengan berbagai blunder dan citra diri negatif.
Di umurnya yang 50 tahun, harus diakui bahwa Ahok telah memunculkan dirinya sebagai idola publik. Publik yang sudah bosan dengan kemunafikan para elit politik yang selalu mengatasnamakan rakyat, menaruh harapan baru pada sosok Ahok yang revolusioner. Pengumpulan KTP dengan jumlah lebih dari satu juta itu (kini terus diverifikasi oleh Teman Ahok), adalah bukti riil dukungan publik kepada sosok seoran Ahok. Ahok muncul sebagai magnet publik karena gagasannya yang brilian, keberaniannya memberantas berbagai kecurangan dan kegigihannya melawan korupsi yang sudah mengakar di birokrasi pemerintahan.
Sejarah banyak mencatat betapa ketika seseorang yang berintegritas muncul dari sebuah sistem yang sudah rusak, orang tersebut akan dimusuhi. Dan itulah rumusan kuno yang berlaku bagi seorang Ahok. Ahok terlihat terus-menerus digebuk dari dalam maupun dari luar. Ahok terus dihancurkan karakternya. Ahok terus diserang dengan berbagai cara. Kenapa? Ahok jelas menjadi ancaman yang nyata karena sudah mengganggu ketentraman para lintah dan tikus yang sudah lama bersarang. Maka ketika Ahok gagal dijatuhkan pun gagal dijadikan tersangka, maka lawan-lawan Ahok terus mencari cara lain yang masih ada untuk menyerangnya. Hal itu terlihat pada kasus Sumber Waras yang sengaja dibuat tiada ujungnya. Ketika Ahok gagal dijegal oleh BPK lewat KPK, DPR Senayan yang mempunyai hak angket, mulai turun all-out menjegal Ahok. Setelah lebaran, DPR berencana akan membentuk Pansus Sumber Waras. Tentu saja pembentukan Pansus oleh DPR itu nantinya justru diinginkan publik agar borok-borok BPK dan juga DPR akan terlihat secara benderang. Publik pun paham bahwa akhir dari Pansus ngotot itu nantinya akan berakhir menguap persis seperti kasus Century yang dipitieskan begitu saja. Pansus Sumber Waras kalau memang menjadi kenyataan, diprediksi hanya akan menjadi panggung oknum-oknum DPR yang ingin menebus rasa malunya bersama ketua BPK Hary Azhar. Seperti diberitakan media, Hary Azhar terus ngotot bahwa tetap ada kerugian negara sebesar Rp. 191 miliar di Sumber Waras dan menuntut Pemrov DKI untuk mengembalikannya sampai kiamat.
Selamat Ulang Tahun, panjang umur dan bertarung selalu. // //