Kolom Asaaro Lahagu: Ahok Dan Spirit Doa, Skenario Bpk
Kekuatan doa orang benar bisa menyelamatkan itulah yang selalu ditanam Ahok di dalam kalbunya. Sebelum pergi ke kantornya, Ahok dikenal media bahwa ia selalu meminta doa dari ibundanya. Sepanjang hari dalam tugasnya mengabdi negara, Ahok bekerja dengan spirit doa. Kalau dia sudah sampai larut malam ke rumah, Ahok kembali meminta doa syukur dari Ibundanya dari Belitung sana. Hari-hari penuh pertarungan telah dilalui, esok Ahok akan kembali lagi bertarung dengan spirit doa yang sama.
Para lawan Ahok pun heran dan takjub mengapa Ahok yang diserang dari berbagai penjuru tidak juga kunjung jatuh? Bahkan faktanya, Ahok semakin fenomenal dengan raihan 1 juta KTP, dan didukung oleh 3 partai pendukung? Mengapa media sosial selalu bergemuruh mendukung Ahok. Bahkan gara-gara Ahok, sosok sekaliber Aburizal Bakri terpaksa plin-plan menyatakan dukungan kepada Ahok? Para lawan Ahok lupa satu hal yang paling hakiki bahwa kekuatan rohaniah seseorang sangat berperan. Doa orang benar didengar Sang Pencipta sedangkan doa orang tidak benar dibiarkan. Penulis tidak akan mengadili apakah doa Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet, Abraham Lunggana, Muhammad Taufik benar atau tidak benar. Pun doa oknum BPK yang ingin menjatuhkan Ahok benar. Soal kebenaran doa, hanya Dia yang di atas sana yang tahu.
Langkah Efdinal itu direspon Ahok dengan menyerang balik BPK. Ahok kemudian mengungkit kebiasaan lama BPK yang memberikan penilaian Wajar Tanpa Pengecualian (WDP) kepada berbagai daerah namun kepala daerahnya terbukti korupsi. Aksi melawan Ahok itu membuat BPK kebakaran jenggot. Ahok diingatkan oleh berbagai pihak agar tidak melawan BPK karena melawan BPK itu sulit sekali. Karena hanya lewat laporannya maka hampir dipastikan orang tersebut menjadi tersangka. Selama ini KPK dan pihak penegak hukum lain selalu menjadikan hasil audit BPK itu sebagai dasar penyidikan berbagai kasus-kasus korupsi. Akan tetapi Ahok tetap teguh. No kompromi. Karena Ahok yakin bahwa apa yang dia lakukan di Sumber Waras sudah benar dan merasa bahwa tidak ada uang satu rupiah pun yang dia korupsi, maka Ahok pun terus menantang para petinggi BPK agar membuka laporan kekayaan mereka kepada publik. Perseteruan Ahok vs BPK DKI pun melebar menjadi perseteruan Ahok vs BPK Pusat. BPK Pusat pun kemudian menganggap Ahok melawan dan mengancam reputasi mereka.