Kolom Asaaro Lahagu: Ahok Digencet, Jokowi Dibidik Dan Gelegar
Para musuh Ahok jelas tersebar di mana-mana. Musuh utamanya adalah kaum fundamentalis ekstrim berbaju agama semacam FPI dan HTI. Ormas berdaster ini berada di barisan depan medan tempur baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Mereka ini ingin menyingkirkan Ahok bagaimanapun caranya, termasuk membunuh sekalipun. Ahok jangan sampai menjadi Gubernur lagi. Ahok harus ditumbangkan sebelum Pilkada. Itu tujuan utamanya.
Alasan para kaum ekstrimis memusuhi Ahok adalah pertama, Ahok double minoritas dengan cap kafir yang disematkan pada dirinya. Oleh karena itu, Ahok tidak boleh menjadi pemimpin di negeri ini. Ke dua, Ahok terlalu lancang menghilangkan sumber-sumber pendapatan ormas selama ini seperti lahan parkir, setoran dari PKL liar dan pungutan liar dari perusahaan-perusahaan yang tidak mau disweeping. Ke tiga, Ahok tak lagi mau mengucurkan dana-dana hibah dari Pemrov DKI sebagaimana kebiasaan gubernur sebelum Jokowi-Ahok. Hal ini jelas menggangu kondisi keuangan dan periuk ormas.
Sejajar dengan garis depan, Muhammad Taufik dan Abraham Lunggana alias Lulung (Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta) terus mengobarkan perseteruan dengan Ahok. Masing-masing dua orang ini di-back-up oleh partai Gerinda dan PPP plus Fadli Zon dan Fahri Hamzah di DPR Senayan. Mereka-mereka ini tak kenal lelah menyerang Ahok dengan berbagai cara. Alasannya jelas. Pertama , lahan basah Lulung di Tanah Abang yang bisa menghasilkan mobil Lamborgini dalam sekejap, telah dikeringkan habis oleh Ahok. Ke dua, Ahok telah menghina Partai Gerinda dengan keluar dari partai itu dan ke tiga, Ahok telah mengikis habis dana-dana anggaran siluman pada APBD DKI Jakarta yang membuat perusahaan siluman mereka juga terkena imbas. Ini sangat memukul batin Lulung dan Taufik. Di belakang garis depan, ada sederet para musuh Ahok yang juga rajin turun ke lapangan. Mereka itu adalah Ratna Sarumpaet, Ahmad Dhani, Yusril Ihzra Mahendra, Habiburohman dan Amin Rais dan serta pengikut mereka. Mereka memusuhi Ahok juga dengan alasan bahwa (1) Ahok mulutnya comberan, (2) ingin menarik simpati masyarakat yang tertindas, dan (3) ingin menebeng pada popularitas Ahok sekaligus mengangkat kembali citra mereka yang semakin redup. Orang-orang ini melakukan berbagai cara untuk menurunkan Ahok atau sekedar menjegal pencalonan dirinya menjadi Cagub DKI untuk periode ke dua.
Tujuan ke dua adalah menjatuhkan citra Ahok yang sulit dikalahkan bila hanya adu program atau adu integritas. Maka hanya lewat pengangkatan isu-isu SARA-lah satu-satunya jalan untuk menjatuhkan citra Ahok agar tidak bisa terpilih lagi di Pilkada DKI 2017 mendatang. Dengan jatuhnya citra Ahok, maka pasangan Anis-Sandiaga dan Agus-Sylviana akan naik pamor dan pada hari pencoplosan, kedua pasangan ini dapat mengeliminasi Ahok pada putaran pertama. Nantinya pada putaran ke dua, hanya pasangan Anies-Sandiaga dan Agus-Sylvianalah yang berlaga. Inilah mimpi mereka. Ahok harus tumbang sebelum berlaga di Pilkada 2017 mendatang. Titik. Tujuan ke tiga dari skenario pertama adalah memaksa Bareskrim Polri menangkap Ahok, lalu menetapkannya sebagai tersangka penista Agama. Syukur-syukur jika ke depannya Ahok dipenjara. Namun dengan status tersangka saja atau minimal ditangkap dan ditahan, maka para musuh Ahok akan berpesta pora. Jika Ahok ditangkap, maka dia dipastikan gagal menjadi calon gubernur pada Pilkada 2017 mendatang. Inilah puncak tujuan para musuh Ahok selama ini. Setelah mereka gagal pada kasus anggaran siluman APBD DKI, anggaran UPS, Sumber Waras, Reklamasi, maka pada kasus penyempretan Surat Al-Maidah itu, mereka sujud berdoa kusut agar Sang Khalik mengabulkan doa mereka. Doa kepada Sang Khalik agar Ahok tumbang bahkan dibawa sampai di Tanah Suci. Mantap. Lalu apa skenario ke duanya? FPI dan orang-orang di belakangnya paham betul bahwa tidak gampang menjatuhkan Ahok. Selain karena alasan penistaan agama itu semakin terlihat hanya dibesar-besarkan dengan tujuan politis, juga karena integritas Ahok yang luar biasa kuat. Mereka juga paham bahwa di belakang Ahok ada penegak konstitusi dan NKRI seperti Presiden Jokowi, Kapolri, TNI , PDIP, Golkar, Nasdem, Hanura, Teman Ahok dan barisan NU. Belum lagi para konglamerat yang disebut para naga besar ada di belakang Ahok plus masyarakat Jakarta yang sudah cerdas. Lalu bagaimana caranya menaklukan Ahok?
Lalu, apa skenario Jokowi dalam menghadapi demo 4 November itu?