Kolom Asaaro Lahagu: Ahok Gusur Rawajati, Terapkan Strategi Terbalik,
Jika calon gubernur lainnya lebih menjaga sikap menjelang Pilkada, Ahok justru sebaliknya. Ia malah beringas menggusur rakyat Jakarta seperti yang dilakukannya di Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan kemarin. Di Rawajati, Ahok tanpa ampun menggusur 90 kepala keluarga atau 60 rumah (1/9/2016) untuk menormalisasi jalur hijau di daerah itu.
Tidak berhenti sampai di situ, bulan September- Oktober 2016 ini, Ahok menegaskan ia akan semakin keras melakukan penertiban terhadap bangunan warga yang berdiri di tempat illegal mulai dari bantaran kali, waduk dan pesisir.
Menurut Ahok dengan total 20 ribu unit rumah susun sewa sederhana (rusunawa) yang sedang dan akan selesai dibangun oleh Pemrov DKI Jakarta pada tahun 2016 ini, maka dirinya akan menggerakkan penertiban yang lebih galak menjelang akhir masa jabatannya. Jika para calon gubernur lainnya sangat peduli pada citra, eletabilitas, akseptabilitas dan popularitas, Ahok justru sebaliknya. Ia terlihat tidak peduli dengan eletabilitas, akseptablitas, popularitas atau apalah namanya itu. Walaupun eletabilitas, akseptabilias dan popularitasnya menurun, Ahok sama sekali tidak peduli. Bagi Ahok, persetan dengan semuanya itu.
Lalu ada apa sebenarnya di balik strategi terbalik Ahok itu?
Jika Ahok berstrategi terbalik dalam kebijakannya, maka itu sebetulnya bisa dipahami. Ahok justru sangat paham bahwa kekuatannya sebenarnya terletak pada tindakannya yang berani menggusur, melawan DPRD, melawan preman, kasar dan bermulut besar dan seterusnya. Ketika ia berhenti bertindak keras melakukan penertiban, maka pada saat itu Ahok tamat. Ia tidak laku. Ahok sadar bahwa ia tenar di panggung politik sekarang ini justru karena sikapnya yang kontroversial bagi sebagian orang yang tidak paham. Jika ia memaki, mencaci dan mengumpat, mengeluarkan nama-nama kebun binatang untuk mengumpat pencuri uang negara, maka secara substansi sebetulnya hal itu bisa dipahami. Ketika seseorang yang mencuri atau mencopet dompet kita, maka pada saat kita sadar, akan dengan sendirinya keluar kata-kata maling, perampok, pencopet atau sejenisnya.