Kolom Asaaro Lahagu: Ahok Ratakan Kalijodo, Gunakan Taktik Blitzkrieg,
Gubernur sebelumnya, bolehlah berkoak-koak sebagai gubernur paling hebat, berprestasi atau apalah namanya. Tetapi warga Jakarta tahu betul siapa gubernur yang lurus, petarung dan pekerja keras. Warga Jakarta juga tahu jika ibu kota selama puluhan tahun berjalan tanpa pemerintah alias auto pilot. Selama puluhan tahun, Jakarta dikuasai oleh para preman, mafia dan para koruptor berdasi yang menyamar sebagai anggota DPRD dan pejabat. Mereka menguasai lahan-lahan negara, mengutip uang parkir semberangan dan mengelola lapak-lapak PKL liar. Mereka terus berpesta pora menggerogoti uang ABPD lewat proyek-proyek fiktif. Kafe Intan yang megah milik pentolan Kalijodo Daeng Azis menjadi bangunan yang pertama dieksekusi alat berat oleh petugas. Foto: Klaseme.co [/caption] Tanpa kehadiran Negara di ibu kota, maka organisasi kemasyarakatan seperti FPI, menjelma menjadi ormas yang sangat berkuasa di ibu kota. Mereka bebas merazia tempat-tempat yang melanggar menurut kacamata mereka sendiri. Kehadiran negara di ibu kota pun dirasa kurang bahkan absen. Padahal ada ribuan tentara dan polisi di ibu kota yang digaji dengan pajak rakyat. Namun aparat itu, tidak bisa berbuat apa-apa karena gubernurnya sendiri ikut kongkang-lingkong dan tunduk kepada kemauan para preman, mafia dan koruptor.
Taktik menjepit Kalijodo lewat aparat telah membuat preman sekelas Daeng Aziz tak berkutik. Daeng Aziz yang disebut-sebut sebagai preman paling sangar, karena pernah menodongkan pistol kepada Kombes Krisna Murti, kini tak berkutik di tahanan. Ia menjadi tersangka pencurian listrik selama bertahun-tahun. Pun pengacara vokal Razman Nasution, tidak ubahnya seperti pengacara kemarin sore yang bingung dan tidak tahu harus berbuat apa-apa untuk membela warga Kalijodo.