Kolom Asaaro Lahagu: Ahok Zigzag, Megawati Minta Ahok Jantan,
Ahok tak menggubris elit PDIP lainnya yang terus bersuara sumbang kepadanya. Sejauh ia masih ‘merasa’ dekat dengan Megawati, dan Megawati merasa ‘nyaman’ dengan ucapan ‘kedekatan’ Ahok kepadanya, maka Ahok masih aman. Ahok paham bahwa kunci utama pengendali PDIP ada di Megawati, bukan Puan, bukan Hasto atau Prasetyo. Jadi, Ahok sedapat mungkin ‘manggut’ secara cerdas kepada Megawati agar sedapat mungkin Megawati tidak melawannya secara frontal.
Ahok sangat paham sosok seorang Megawati. Jika 20 tahun lalu Megawati adalah seorang pejuang, seorang pembela wong cilik, kini Megawati jelas sudah berubah. Dan inilah yang dipahami betul oleh seorang Ahok. Megawati sekarang adalah sosok penikmat kekuasaan. Ia sudah mabuk kekuasaan. Pergerakannya pun sudah lamban, gemuk, dan tidak selincah dulu. Ia persis seperti Soekarno dan Soeharto di masa tuanya.
Sama seperti kedua presiden pendahulunya itu, Megawati sudah terlalu lama di puncak,17 tahun lamanya ia memegang tampuk kekuasaan. Ia jelas sudah jenuh, lelah dan kenyang dengan politik. Dan, karena itu, ia merasa saatnya untuk menikmati, mabuk dan melupakan wong cilik yang pernah membesarkan namanya.
Ketika Megawati mendengar dari para pembisiknya hal-hal negatif tentang Ahok di DKI, menjadi semakin bingung ketika justru mendengar dari berbagai media keberhasilan Ahok di DKI. Dengan merajainya media online yang bisa diakses oleh siapa saja, maka berita yang ditutupi akan dengan mudah dibongkar. Gebrakan membahana Ahok terus-menerus didengar oleh Megawati yang justru bertentangan dari para pembisiknya. Ketika rumah adat Karo ambruk, yang biasanya ada patung kepala kerbau di puncak atapnya, ke manakah bocah ini mencari ibunya?[/caption]