Kolom Asaaro Lahagu: Analisis Ucapan Rizieq, Penista Agama
Pertama, analisa kata ‘habib’ . Dalam kutipan di atas, Rizieg menyebut dirinya habib . Habib Rizieq Shihab. Habib (gelar yang diperoleh dari garis keturuan Rasulullah atau dari komunitas dengan syarat-syarat tertentu), berarti sosok yang dicintai. Orang yang menyandang gelar habib adalah orang yang mampu mencintai sekaligus sosok yang layak dicintai, menyejukkan, menjadi panutan, memiliki ilmu yang luas, bertaqwa dan berakhlak baik.
Jadi gelar habib, bukan gelar main-main. Orang yang menyandang gelar itu, kesuciannya di atas rata-rata. Karena itu tidak semua orang layak dan pantas menyandang gelar habib. Bahkan Quraish Shihab, salah seorang cendekiawan Muslim terkemuka Indonesia, menolak menyebut dirinya habib. Padahal Quraih Shihab layak menyandang gelar itu. Quraish Shihab dikenal di Indonesia dan bahkan dunia sebagai sosok santun, rendah hati, berilmu luas.
Nah, apakah Rizieg layak disebut habib? Habib Rizieq? Masih diragukan, dipertanyakan dan disangsikan. Selama ini Rizieg terlihat sebagai sosok pribadi yang keras, arogan dan meletup-letup. Kata-katanya pedas, kerap mengeluarkan kata kafir, bunuh. Ia juga sosok yang angkuh. Hidup Rizieg juga akrab kehidupan mewah, naik Rubicon bernomor cantik. Ia juga berteman dengan konglamerat, memusuhi pemerintah yang sah dan kerap menyebarkan isu SARA.
Lalu mengapa ia menyebut dirinya habib? Agar kelihatan wah, suci, hebat, sok berilmu. Padahal sebetulnya itu hanya kedok. Jika dilihat dari karakternya, Rizieq termasuk sosok manusia yang haus perhatian, haus kekuasaan, haus pujian, haus pengakuan, haus ketenaran, haus sorakan, haus hal-hal keduniawian. Jadi jika ada manusia seperti ini, maka jelas ia sedang butuh pertolongan sekaligus butuh agar dipahami.
Ke dua , analisis kata ‘selamat natal’. Saat mengucapkan kutipan di atas, Rizieq sedang ceramah keagamaan. Bukannya Rizieq menginspirasi para pendengarnya dengan ilmu agamanya sendiri, tetapi ia mencoba membumbuinya dengan mengolok-olok agama lain. Kebetulan ada perayaan natal agama Kristen. Momen itu dimanfaatkan oleh benar Rizieq. Mengapa?
Karena setiap kali ada perayaan agama Kristen, akidah Rizieq terganggu. Setiap kali Rizieq mendengarkan lagu natal, jiwanya membara, membuih dan tersentil. Setiap kali ia melihat pernik-pernik dan atribut natal, akidahnya meredup, berkurang, hambar. Seolah-olah lagu natal, atribut natal bak cahaya terang menembus jiwanya. Apalagi melihat spirit orang-orang Kristen yang selalu semangat menghayati agamannya, jiwa Rizieq semakin memberontak.
Jika Rizieq meyakini bahwa agamanyalah yang benar, itu sah-sah saja. Namun mengolok-olok agama lain di hadapan agama sendiri adalah tindakan tak bernalar. Itu hasil dogma bertahun-tahun yang berpikiran bahwa dunia ini seperti tempurung. Dalam bayangan Rizieq, dunia ini hanya sebesar tempurung dan dialah orang yang ada di bawah tempurung itu. Selain tempurungnya, tidak ada lagi dunia lain. Selain kebenaran yang dianutnya, tidak lagi kebenaran lain. Inilah keyakinan yang sebetulnya mengerikan. Dan bila ada orang yang seperti itu, sangat layak dikasihani, dipahami dan dimaafkan. Ke tiga, analisis tentang arti natal sebagai hari lahirnya Yesus Kristus, anak Tuhan dan keesaan Allah. Pemahaman Rizieq ini sudah benar. Natal bagi orang Kristen adalah perayaan hari kelahiran Yesus Kristus. Yesus adalah Putera Allah. Namun ketika Rizieg menyinggung Yesus, anak Tuhan, dia mulai offside karena ketidakpahamannya. Rizieq belum sampai pada pemahaman bahwa Yesus adalah Putera Allah. Yesus adalah bagian dari Allah Tritunggal Maha Kudus. Tiga tetapi satu. Satu tetapi tiga. Allah, Putera dan Roh Kudus. Tuhan itu hanya satu, esa, namun mempunyai tiga pribadi, yakni Allah, Putera dan Roh Kudus. Namun ketiga pribadi ini satu kesatuan, tak terpisahkan.