Kolom Asaaro Lahagu: Berpestalah Chile, Menangislah
Capaian Chile menjadi juara Copa Amerika dalam dua tahun berturut-turut, adalah buah kerja sama, kerja keras, taktik dan sedikit faktor keberuntungan. Chile layak juara. Permainan Chile layak diapresiasi. Mereka adalah tim juara. Tekad dan mental juara kini telah Chile peroleh. Ke depan, Chile akan layak diperhitungkan dalam dunia sepak bola America Latin dan dunia. Chile mulai menjelma menjadi kekuatan sepakbola Amerika Latin dan dunia.
Para pemain Chile yang banyak bermain di liga terbaik Eropa seperti Alexis Sanchez, Arturo Vidal, Caludio Bravo, telah terbukti mendobrak prestasi nasional Chile. Mereka-mereka inilah yang menjadi tulang punggung permainan Chile dari awal hingga mencapai final dengan lawan super tangguh Argentina, dan menang dengan gilang-gemilang. Chile juara Copa America dua tahun berturut-turut. Chile, berpestalah, bersoraklah, berdansalah. Engkau layak untuk itu. Dunia ikut bersorak menyaksikkan keberhasilanmu.
Jika dunia ikut bersorak atas keberhasilan Chile, tidak demikian dengan Argentina. Ada 42 juta rakyat Argentina yang menangis. Ya, Argentina menangis, Maradona menangis. Tahun 2014, Argentina menangis saat kalah di final Piala dunia melawan Jerman. Kemudian tahun 2015, Argentina kalah di final dalam kejuaraan Copa America melawan Chile. Dan terakhir tahun 2016, lagi-lagi Argentina kalah di final melawan Chile. Nasib Argentina yang bertabur bintang sungguh tragis. Tiga tahun Argentina yang mencapai final, selalu gagal. Inilah tahun-tahun tangisan bagi Argentina. Menangislah Argentina. Jangan simpan tangisanmu di lubuk hatimu. Curahkanlah tangisanmu. Tangisan itu adalah ciptaan Sang Pencipta. Ia diperlukan untuk menyembuhkan luka batinmu. Menangis adalah salah satu cara mengekspresikan duka, kekecewaan dan kepedihan hati. Itulah obat kepedihanmu Argentina untuk kemudian berjuang lagi meraih kejayaan.
Bintang Argentina, Lionel Messi, telah mempertotonkan kebintangannya di lapangan. Ia menghidupkan permainan Argentina. Ia mendribel bola, menusuk, meliuk-liuk, mengecoh. Beberapa kali, Messi diganjal, ditekel, didorong, namun Messi terus bangun, mengejar bola. Jutaan rakyat Argentina menaruh harapan pada gocekan dan keahliannya. Mungkin kalau saja, Argentina tidak kehilangan salah satu pemainnya, nasib Argentina berkata lain. Dalam dunia sepak bola, faktor keberuntungan itu ikut berbicara. Bola jelas bundar. Ketika Lionel Messi dipilih pelatih sebagai penendang pertama adu penalti, tekanan luar biasa ada di pundak Messi. Jutaan rakyat Argentina menahas nafas. Pun ketika tendangan Messi melambung di atas mistar, persis seperti tendangan Roberto Bagio di final piala dunia 1994, rakyat Argentina mati suri beberapa detik. Lionel Messi, gagal penalti. Dunia impian Argentina runtuh sejenak.