Kolom Asaaro Lahagu: Buni Yani, Estiningsih, Sidang Ahok Dan
Lewat aksi Buni Yani, negara menjadi terluka. Banyak pihak yang yakin, tanpa provokasi Buni Yani melalui potongan videonya, kehebohan ucapan Ahok di Kepulauan Seribu tidak akan terjadi. Lebih 87% warga Jakarta tak pernah menonton video Ahok secara lengkap dan utuh. Demikian juga warga luar Jakarta. Mereka ikut-ikutan demo setelah potongan singkat video Buni Yani tersebar luas.
Efek potongan video Buni Yani menjadikan pemahaman berbangsa dan bernegara telah mencapai titik nadir terendah. Beberapa individu dan Ormas memanfaatkan momentum itu untuk ikut menunjukkan arogansinya. Pembubaran ibadah KKR di Sabuga, Bandung, ikut dicampuri dengan alasan tetek bengek ijin. Kemudian kata kafir dijadikan sebagai senjata untk membungkam warga negara yang tidak seiman. Berbagai contoh rendahnya bobot pemahaman bernegara dengan gamang dipertontonkan.
Cuitan bernada SARA Dwi Estiningsih, calon anggota DPR yang gagal, terkait pahlawan yang ia sebut kafir adalah contoh rendahnya bobot pemahaman berbangsa dan bernegara. Seorang warga negara berpendidikan dan telah belajar sejarah, menghina pahlawan. Ini jelas hasil produk dogma tak bernalar yang sudah berakar bertahun-tahun.
Kebanggaan agama yang dianut terus dipupuk dengan pemahaman yang lemah. Akibatnya Dwi Estiningsih tidak mampu mencerna agama dengan baik. Agama kemudian dijadikannya sebagai jubah kebesaran, kemegahan, arogansi dan bahkan senjata. Padahal secara esensi dan substansinya, setiap orang bisa menjadi kafir jika ia lari dari petunjuk Sang Khalik.
Oleh karena nalar yang lemah, Dwi dengan mudah menunjuk orang lain kafir daripada dirinya sendiri. Ia dengan berani menghina, melecehkan dan menista para pahlawan yang sebenarnya telah berbuat dan berkorban untuk negara ini. Pertanyaan untuk Dwi, apa yang telah engkau perbuat untuk negara ini? Satu jari menunjuk orang lain sementara empat jari menunjuk diri sendiri. Kini setelah dilaporkan kepada polisi, Dwi merengek-rengek minta maaf dan meminta laporan itu dicabut. Ini namanya pengecut. Foto: Heta News [/caption] Fatwa haram MUI tentang atribut Natal adalah contoh lebih lanjut gagalnya paham bernegara secara institusi. Fatwa itu dijadikan oleh FPI sebagai pijakan legitimasi untuk melakukan sweeping. Sementara MUI sendiri setelah mengeluarkan fatwa, terlihat cuci tangan. Akibatnya negara dalam negara, polisi dalam polisi dan hukum di dalam hukumpun lahir. Istana yang menjadi pusat kekuasaan tersenggol dan tersentil. Namun istana tidak tinggal diam. Jokowi terus terlihat melakukan tindakan-tindakan yang bersifat strategis.
Bagi Presiden Jokowi, pembuktian tindakan makar oleh pelaku makar sangat menentukan upaya penstabilan negara selanjutnya. Tindakan penangkapan itu merupakan ajang pembuktian ucapannya tentang penunggangan politik Demo 411 dan 212 terkait kasus Ahok. Ahokpun dengan tegas di persidangan pertamanya bahwa warna politik atas sidangnya berbau politik. Dwi Estiningsih[/caption]