Kolom Asaaro Lahagu: Daya Juang Ahok Teruji, Elektabilitas Kembali
Survey LSI yang dirilis 15 Desember 2016, menyatakan eletabilitas Ahok kembali mencapai 31,8%. Ia mengungguli Pasangan Agus-Sylvi yang mulai turun pada angka 26,5% dan Anies-Sandi yang mendapat dukungan 23,9%. Walapun hasil survey LSI ini masih bersifat anomali, namun dari hasil survey itu, terkandung pesan tersembunyi nan kuat dari warga Jakarta.
Sejak 2 bulan lalu, jutaan rakyat Jakarta terus memantau Ahok. Mereka menyorot, mengamati dan memantau semua gerak-gerik Ahok. Apakah Ahok saat tersandung masalah mudah menyerah? Apakah Ahok adalah seorang pengecut? Apakah Ahok gampang lari dari masalah? Apakah Ahok gampang menyalahkan pihak lain saat lidahnya sendiri keseleo? Apakah Ahok akan melecehkan hukum saat ia berurusan dengan hukum?
Pertanyaan-pertanyaan itu telah dijawab oleh Ahok di depan jutaan warga Jakarta. Saat Ahok dianggap melakukan penistaan agama di Kepulauan Seribu 27 September 2016] lalu, Ahok langsung meminta maaf dengan tulus. Bukan hanya itu, pada setiap kesempatan, Ahok terus meminta maaf, meminta maaf dan meminta maaf. Jelas warga Jakarta diuji tingkat keimanannya jika tidak memaafkan Ahok. Kini, warga Jakarta sudah mulai memahami, mengerti kasus Ahok itu dan mulai memaafkannya. Foto: NKRI Benteng [/caption] Saat Ahok dilabeli bermulut comberan, kasar, pongah, tak bisa menjaga mulutnya, kini jutaan warga Jakarta merasakan perubahan dalam diri Ahok. Ahok terlihat lebih santun, lebih halus, jaga mulut, jaga perilaku dan rendah hati. Perubahan itu mendapat simpati warga Jakarta. Ternyata Ahok bisa berubah. Walaupun sebetulnya banyak warga Jakarta menginginkan Ahok seperti dulu, meledak-ledak dan menyudutkan para koruptor hingga terkencing-kencing di celana. Saya sendiri rindu mulut Ahok. Karena dari mulutnya itu, banyak cerita dirangkai.