Kolom Asaaro Lahagu: Didukung Oleh Pdip, Duet Maut Ahok-djarot
Jika Megawati melalui PDIP-nya menentang keinginan publik Jakarta dengan mengusung calonnya sendiri, termasuk mengorbitkan Djarot, maka peluang bentrok antara pendukung PDIP dengan pendukung Ahok yang sama-sama berbasis nasionalis, akan terjadi. Hal ini hanya akan membuang-buang energi yang sebetulnya untuk jangka panjang tak banyak manfaatnya. Resiko bentrokan itu pun akan membuat salah satu pihak keok, yakni calon dari PDIP atau Ahok sebagai incumbent. Situasi ini tentu membuat partai lain bisa mengambil keuntungan semisal Gerinda, PAN dan PKS yang tentu menjadikan PDIP sebagai tunggangan mereka.
Ke dua , isu-isu yang berkembang satu dua hari terakhir ini. Heru yang telah dipasangkan dengan Ahok oleh Teman Ahok diisukan akan mundur sebagai pendamping Ahok dari jalur independen. Ketidakhadiran Heru juga dalam 2 acara terakhir Teman Ahok dimaknai sebagai sinyal bahwa Heru sudah tahu akhir episode sepak-terjang politik Ahok. Ahok yang kembali mesra dengan Djarot memberi sinyal bahwa Ahok telah mencapai kesepakatan senyap dengan Megawati. Ahok akan diusung oleh PDIP dengan Djarot sebagai wakilnya.
Syarat yang diajukan oleh PDIP bahwa Ahok harus maju lewat jalur Parpol dan bukan lewat jalur independen, bukanlah hal berat bagi Ahok. Nampaknya Ahok mulai melunak dan mulai berpaling kepada PDIP. Melunaknya Ahok, tentu membuat Megawati mengeluarkan otoritasnya sebagai Ketua Umum PDIP untuk memilih Ahok sebagai calon gubernur melalui penugasan khusus. Keputusan ini bukanlah hal sulit bagi PDIP. Artinya, jika Ahok rela meninggalkan Teman Ahok untuk ‘sementara’ karena toh akan kembali bergabung dengan mereka, maka Megawati tidak akan ragu mengeliminir ke-30-an calon yang telah mendaftar, demi Ahok.
Jadi, bagi Teman Ahok, jelas tidak ada masalah. Hasil kerja keras mereka selama ini, sekurang-kurangnya telah membuka mata semua partai politik bahwa jalur independen bagi calon bersih, jujur dan berprestasi pun tetap akan bisa membunyikan lonceng kematian bagi partai politik. Bagi Ahok sendiri, hasil pengumpulan KTP yang kemungkinan mencapai angka 1 juta KTP, akan menjadi modal besar Ahok untuk tidak tunduk begitu saja kepada parpol pendukungnya ke depannya. Lalu, bagaimana dengan Heru? Jelas Heru tidak mempermasalahkan apapun keputusan Ahok. Jika Ahok akan meninggalkan Heru dan kembali berpasangan dengan Djarot, Heru tidak rugi apapun. Toh yang meminta Heru sebelumnya adalah Ahok, untuk dijadikan ‘ban serep’ atau bagian dari strategi politiknya. Heru jelas tetap berterimakasih kepada Ahok yang sudah melambungkan namanya di hadapan publik. Bisa jadi ke depannya, karena kerelaan Heru tersebut, maka Heru akan semakin mendapat kepercayaan lebih besar dari Ahok.