Kolom Asaaro Lahagu: Gempa Ahok Goncang Jakarta, Amien Rais
Sejak menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta 2014, Ahok telah meluluhlantahkan tatanan Jakarta. Keberadaan Ahok selama 2 tahun terakhir ini dirasakan bagaikan gempa skala 8 Richter. Jakarta selama 30 tahun sejak era Ali Sadikin berakhir, praktis berada dalam situasi tentram, aman, damai. Kota ini berhasil dikendalikan oleh birokrat korup, preman berdasi dan para anggota DPRD yang rakus.
Dalam 3 dasawarsa terakhir, Jakarta dikendalikan oleh para gubernur yang birokratnya korup, didukung oleh anggota DPRD yang korup plus ormas-ormas haus dana hibah dan para pengusaha hitam. Mereka semua berbagi rata, dapat bagian yang sama, saling melindungi dan menutupi borok masing-masing. Hasilnya Jakarta aman, damai dan tentram.
Kerjasama birokrat, pengusaha pejabat yang disokong oleh preman berdasi plus mafia hukum, telah membuat Jakarta menderita. Masalah banjir, kemacetan, PKL liar, preman liar, parkir liar, rumah liar yang kumuh bercampur dengan aneka kriminal geng kota tak kunjung bisa diatasi. Jakarta kemudian menjadi kota rimba yang dipenuhi oleh makhluk-makhluk ganas bernama manusia. Tetapi ajaibnya mereka semua hidup damai berdampingan karena mendapat bagian yang sama dan sama rata. Alhasil Jakarta bermetafora menjadi kota dengan dua sisi yakni surga dan neraka. Jakarta menjadi neraka kemiskinan, kesemrawutan, kekumuhan yang memalukan dibanding kota-kota terkemuka Asia lainnya. Sementara itu dari sisi surganya, Jakarta menjadi sarang tawon bagi kaum borjuis, birokrat sukses, pejabat lihai, penegak hukum licik dan pengusaha bandel. Mereka semakin hari semakin makmur, mapan, kaya raya dan mampu mempertahankan jabatannya lewat relasi rumit yang turun-temurun.