Kolom Asaaro Lahagu: Istana, Nasdem, Hanura Dukung Penuh Ahok,
Ketika Jokowi menjadi RI-1 akhir tahun 2014 dan Ahok menjadi DKI-1 sejak awal tahun 2015, publik melihat bahwa baru kali ini ada progresif masif penataan wilayah ibu kota. Keinginan Jokowi untuk menata ibu kota lebih cepat sejak menjadi DKI-1 telah semakin menjadi kenyataan di tangan Ahok. Jadi amat terang bahwa keberhasilan Ahok menata ibu kota Jakarta adalah juga keberhasilan Jokowi di tingkat pusat dan Indonesia secara umum.
Pilkada DKI 2017 mendatang, jelas menjadi pertarungan Ahok sekaligus pertarungan istana. Jika Ahok gagal menjadi DKI-1 maka hal itu menjadi pukulan telak bagi istana yang sekarang dikendalikan oleh Jokowi. Jelas dan amat jelas jika ibu kota dipimpin oleh mereka yang tidak sejalan dengan Nawacita Jokowi apalagi kalau menentang Jokowi, maka hal itu menjadi duri dalam daging pemerintahan Jokowi.
Jokowi tidak bisa membayangkan jika sosok Ahmad Dhani memimpin ibu kota. Selain Ahmad Dhani adalah sosok penentang Jokowi pada Pilpres 2014 lalu, juga merupakan sosok artis yang mulai turun tangga dan hanya ingin kembali mengangkat pamornya menjadi politisi mie instan. Apalagi melihat program Ahmad Dhani yang hanya gagah-gagahan, bisa membuat ibu kota kembali dalam situasi ruwet dan mumet. Gerakan mengumpulkan KTP DKI di Belanda untuk mendukung pencalonan Ahok lewat Jalur Independen.[/caption] Jokowi juga tidak bisa membayangkan jika sosok Yusril Ihzra Mahendra berhasil memimpin ibu kota. Yusril adalah salah seorang penentang keras Jokowi. Sosok Yusril yang lihai sekaligus licik dalam perkara hukum, akan sibuk membangun citranya di DKI untuk mengincar kursi RI-1. Yusril tentu akan menjadikan DKI sebagai panggungnya untuk terus menghina Jokowi sebagai presiden yang hanya berkapasitas walikota. Hal yang sama berlaku bagi Cagub Adhyaksa Daud. Sosok yang satu ini terkenal dengan omdonya (omong doang). Publik masih ingat bagaimana etos kerja Adhyaksa saat Menpora di era SBY. Selama menjadi Menpora, ia sama sekali minim gebrakan, minim terobosan dan minim kreativitas. Itulah sebabnya SBY mereshuffle Adhyaksa dengan menggantikannya dengan sosok Andi Mallarangeng yang kemudian terjerat korupsi Hambalang. Jika Adhyaksa Daud menjadi gubernur DKI, maka ia akan kembali memanasi isu-isu SARA terutama terkait agama. Publik masih ingat bagaimana Adhyaksa Daud meminta Ahok mengganti agamanya hanya untuk memperoleh dukungannya.
Ke depan pertarungan memperebutkan DKI-1 akan menjadi isu paling panas di negeri ini. Adalah hal yang tidak bisa dielakkan bahwa perseteruan KIH dan KMP jilid II akan mungkin terulang kembali memperebutkan DKI-1. Ibu kota yang menjadi arena laga perebutan kepentingan berbagai partai, konglamerat, para jenderal, dan politisi Senayan akan menjadi daya tarik hiruk-pikuk luar biasa. Dan hal itu pun sudah mulai terlihat sejak dari sekarang. Deklarasi mendukung Ahok - Heru menjadi Gubernur DKI. Lihat beritanya di SINI .[/caption]