Kolom Asaaro Lahagu: Jika Jokowi Korbankan Ahok, Emangnya
Demo aksi Bela Islam I (14 Oktober 2016), yang dihadiri sekitar 40.000 – 60.000 orang umat Islam, mulanya dipandang sebelah mata oleh Jokowi dan orang-orang di sekitar ring 1 istana. Tuntutan pendemo agar Ahok ditahan terkait penistaan agama, kurang digubris oleh pemerintahan Jokowi. Jokowi dan beberapa menterinya tidak yakin bahwa Ahok telah menista agama dan mengambil kesimpulan bahwa isu penistaan agama itu tidak cukup alasan untuk menghukum Ahok dan memasukkannya ke penjara. Akan tetapi, apa yang terjadi pada demo 4 November (411) itu?
Demo 411 telah mengubah mind set Jokowi dan orang-orang di sekitarnya. Demo itu telah memberi Tsunami kejutan kepada Jokowi dan lingkar istana. Besarnya demo yang berjumlah sekitar 500.000 – 750.000 orang, telah membuat istana panik. Ternyata ada kekuatan jalanan yang dahsyat. Kapolri, Tito Karnavian dan Panglima ABRI, Gatot Nurmantyo, tidak menyangka bahwa akan terjadi kerumunan massa sebanyak itu. Beberapa hari sebelumnya dari laporan yang masuk kepada polisi menginformasikan bahwa jumlah pendemo yang datang sekitar 50.000 orang. Faktanya pendemo berjumlah berkali-kali lipat dari prediksi.
Besarnya jumlah pendemo, telah membuat Jokowi pergi dari istana dan memutuskan untuk tidak menemui pendemo. Padahal, sebelumnya dari beberapa pernyataan dari istana, Jokowi akan menemui perwakilan pendemo. Namun saat demo, Jokowi meninggalkan Wapres Jusuf Kalla dan sejumlah Menteri senior di istana. Wapres Kalla kemudian ditugaskan untuk bertemu dengan para pimpinan demo, Habib Rizieq dan kawan-kawan. Dalam pertemuan dengan pimpinan demo, Habib Rizieq, dan kawan-kawan terus menuntut dengan tegas untuk bertemu dengan Jokowi dan memaksa agar Ahok harus segera ditangkap dan dipenjarakan. Di bawah tekanan yang luar biasa, Wapres Jusuf Kalla berjanji untuk memproses kasus Ahok dalam waktu 2 minggu. Janji tegas dari Wapres Jusuf Kalla itu membuat Habib Rizieq, Bachtiar Nasir, Amin Rais, dan kawan-kawan berada di atas angin. Mereka pun keluar dari istana dengan penuh kemenangan. Janji Wapres Kalla 4 November itu kemudian terbukti terlaksana ketika Bareskrim Polri dengan cepat memproses dan melakukan gelar perkara kasus Ahok pada tanggal 15 Noevember. Esoknya 16 November, Ahok ditetapkan sebagai tersangka penista agama. Jelas demo besar 411 itu telah mengejutkan Jokowi dan orang-orang elit di lingkar istana. Jokowi akhirnya menyadari bahwa ada kebencian dan penolakan luar biasa kepada Ahok, yang akan maju dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta Februari 2017 mendatang. Jokowi juga yakin bahwa sebagian usaha memobilisasi massa, lawan-lawan politik Jokowi seperti mantan Presiden SBY ikut andil di dalamnya. Apalagi SBY punya kepentingan menjegal Ahok agar perjalanan puteranya, Agus Harimurti, untuk maju dalam Pilkada DKI Jakarta mendatang, berjalan mulus. Jokowi yakin bahwa Ahok menjadi kunci penyelesaian masalah.
Demo 212 memang terbukti berlangsung damai dan tertib. Namun hal itu tidak lepas dari persiapan Jokowi dan segenap aparat yang melakukan safari ke sana ke mari melakukan konsolidasi kekuatan. Jokowi misalnya bolak-balik mengunjungi berbagai organisasi keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, dan mendatangi barak-barak tentara. Tujuannya adalah untuk mendapat dukungan bagi pemerintah dalam menangani kasus Ahok. Jika Jokowi tidak hadir dalam Demo 411, maka pada Demo 212, Jokowi ikut hadir dan berbicara singkat di atas panggung. Keputusan Jokowi itu telah mendapat dukungan luas dari masyarakat. Namun, beberapa pihak menilai bahwa dengan hadir di panggung demonstrasi, Jokowi telah menghibahkan sebagian wibawa pemerintah kepada penyelenggara demonstrasi, yakni Habib Rizieq dan Bachtiar lawan politik Jokowi. Seperti diketahui, Habib Rizieq dan Bachtiar adalah pemimpin kelompok garis keras yang bertekad untuk mengganti Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang. Selain Ahok harus dilepaskan oleh Jokowi alias dikorbankan dengan alasan-alasan di atas, ada 4 efek besar dari aksi Bela Islam I, II dan III itu.