Kolom Asaaro Lahagu: Jokowi Kini Asyik Serang Balik, Bersihkan
Menghadapi teroris, Jokowi tak mundur selangkah pun, ia memerintahkan Kepala BNPT, Tito Karnavian, terus menghajar para teroris sampai ke sarangnya. Operasi Tinombala pun dilakukan besar-besaran di Sulawesi memburu kelompok Santoso. Jokowi ingin agar bibit teroris dicabut sampai ke akar-akarnya.
Lewat Kepala BIN, Sutiyoso, Jokowi perintahkan agar memburu asset-aset Indonesia di luar negeri. Dengan anggaran yang diajukan BIN Rp. 3,7 triliun, Sutiyoso ingin menangkap para koruptor di luar negeri atau di mana pun di ujung dunia. Hasilnya Koruptor BLBI, Samadikun Hartono, ditangkap di China. Buronan Bank Century, Hartawan Aluwi ditangkap di Singapura.
Ke depan, Jokowi akan memburu dengan ngotot semua para koruptor di luar negeri. Jokowi akan menggunakan segala cara yang ada untuk memburu aset Indonesia yang disembunyikan para koruptor di luar negeri. Itulah sebabnya anggaran BIN terus ditingkatkan, kerjasama dengan negara lain dibina, dan Undang-undang Tax Amnesty terus dikebut. Ke depan uang WNI sebesar Rp. 11,4 ribu triliun yang di luar negeri (di negara-negara tax heaven), akan menjadi fokus perburuan hebat Jokowi. Giliran reporter Sora Sirulo, Giok Tien (berkacamata dengan selendang kotak-kotak) bersalaman dengan Presiden Jokowi di depan Hotel Kurhaus, Scheveningen.[/caption] Dengan data lengkap yang dikantonginya, Jokowi memaksa WNI yang punya duit di luar negeri itu memilih dua option. Duit anda boleh tetap simpan di luar negeri namun anda harus bayar pajak di Indonesia. Pilihan ke dua, tarik duit anda di luar negeri, simpan di bank-bank nasional untuk dipinjam pemerintah sebagai modal pembangunan infrastruktur. Dan anda tidak perlu bayar pajak. Tentu saja ada skenario ke tiga jika dua option itu tidak digubris oleh para pemilik duit Rp. 11, 4 ribu triliun itu. Skenario ke tiga itu menjadi semakin jelas ketika Jokowi membina hubungan mesra dengan China, mengunjungi Amerika Serikat dan terakhir keliling Eropa untuk menyampaikan misi rahasianya. Jika China, Amerika, dan Eropa Barat terus berteriak Indonesia sebagai negara korup, maka Jokowi meminta bantuan mereka memberikan data orang Indonesia yang ada duitnya di negera tersebut. Jika Jokowi ingin menyita uang itu, maka negara lain siap membantu.